Intip Profil 8 Emiten Barang Baku dalam Daftar HSC, dari UBO hingga Free Float
Bursa Efek Indonesia (BEI) akan mengecualikan saham-saham yang masuk daftar high shareholding concentration (HSC) dari perhitungan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Kebijakan itu bakal berdampak terhadap sekitar 18% bobot IHSG.
Pengecualian tersebut bukan berarti saham-saham terkait akan dihapus dari pencatatan bursa atau mengalami delisting. Sahamnya tetap dapat diperdagangkan, tetapi pergerakan harganya tidak lagi memengaruhi pergerakan IHSG.
Sebelumnya, BEI telah mengecualikan saham-saham HSC dari sejumlah indeks unggulan, seperti IDX30, LQ45, dan IDX80. Langkah yang sama selanjutnya akan diperluas ke IHSG.
Dari kelompok sektor barang baku, terdapat delapan emiten yang menjadi perhatian, yakni PT Alakasa Industrindo Tbk (ALKA), PT Saranacentral Bajatama Tbk (BAJA), PT Cita Mineral Investindo Tbk (CITA), PT Cemindo Gemilang Tbk (CMNT), PT Delta Giri Wacana Tbk (DGWG), PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB), PT Samator Indo Gas Tbk (AGII), dan PT Ifishdeco Tbk (IFSH).
Berikut profil bisnis, struktur pemegang saham, penerima manfaat akhir, dan porsi saham publik delapan emiten tersebut.
1. ALKA
PT Alakasa Industrindo Tbk (ALKA) merupakan perusahaan yang berdiri pada 1972 dan mulai menjalankan operasi komersial sebagai perusahaan industri aluminium pada 1973.
Kegiatan usaha perusahaan mencakup industri manufaktur dan fabrikasi, khususnya pengolahan barang-barang dari logam dan aluminium.
Berdasarkan data kepemilikan yang tersedia, porsi free float ALKA tercatat sebesar 12%. Sementara itu, PT Gesit Perkasa menjadi pemegang saham dominan dengan kepemilikan sekitar 83,79%, yang dalam pembaruan data tercatat menjadi 83,80%.
Penerima manfaat akhir alias ultimate beneficial owner (UBO) yang tercantum adalah Jahja Soetoyo, melalui PT Gesit Perkasa, dengan kepemilikan yang dilaporkan sebesar 84%.
Selain Gesit Perkasa, pemegang saham yang tercatat dengan kepemilikan di atas 1% antara lain Selaras Investama Globalindo sebesar 2,83%, Andrew Pascalis Adjiputro sebesar 2,46%, Agnesri Maharlyn Firani Putri sebesar 2,46%, Santinilestari Lokaprima sebesar 1,60%, dan Wenanto Gunawan sebesar 1,32%, naik dari 1,29%.
2. BAJA
PT Saranacentral Bajatama Tbk (BAJA) bergerak di bidang industri dan perdagangan, terutama produk baja. Perusahaan berada pada segmen industri baja midstream, khususnya pelapisan baja. BAJA memproduksi tiga jenis baja lapis, yakni baja lapis seng, baja lapis aluminium seng, dan baja lapis warna.
Porsi free float perusahaan tercatat sebesar 20,87%, lebih tinggi dibandingkan sejumlah emiten lain dalam kelompoknya.
Berdasarkan data yang tersedia, Ibnu Susanto menjadi pemegang saham terbesar dengan kepemilikan 17,79%. Berikutnya, Pandji Surya Soerjoprahono memiliki 16,47%, sedangkan Entario Widjaja Susanto dan Handaja Susanto masing-masing memiliki 16,45%.
Pemegang saham lainnya mencakup Soediarto Soerjoprahono sebesar 8,11%, Laksmono Tirta Kusumo sebesar 2,43%, dan Anton Sebastian sebesar 1,43%.
3. CITA
PT Cita Mineral Investindo Tbk (CITA) bergerak di bidang pertambangan dan penggalian bijih logam. Perusahaan dan entitas anaknya dikenal sebagai salah satu produsen bauksit di Indonesia. Tercatat, free float CITA sebesar 7,71%.
Kepemilikan saham perusahaan didominasi PT Harita Jayaraya sebesar 60,46%, disusul Glencore International Investments sebesar 31,61%. Adapun Alamtri Indo Aluminium tercatat memiliki 3,60%.
Data terbaru juga mencatat UOB Kay Hian Private sebesar 2,93%, meningkat dari angka sebelumnya yang tercatat 0%.
Dari sisi penerima manfaat akhir, data mengidentifikasi sejumlah nama dalam keluarga Lim, antara lain Lim Gunawan Hariyanto, Lim Gunardi Hariyanto, dan Lim Hariyanto Wijaya Sarwono.
4. CMNT
PT Cemindo Gemilang Tbk (CMNT) berdiri pada 2011 dan bergerak di industri semen dengan merek dagang Semen Merah Putih. Perusahaan memiliki enam pabrik yang tersebar di Banten, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Sumatra Utara, dan Bengkulu.
Porsi free float CMNT sebesar 10,55%. Adapun penerima manfaat akhir yang disebut adalah Martua Sitorus, dengan kepemilikan yang dilaporkan sebesar 87,37%.
WH Investments tercatat sebagai pemegang saham dominan dengan porsi 87,37%. Pemegang saham lain meliputi China Paradise HK sebesar 4,34%, Grandham sebesar 3,03%, UBS AG Singapore Branch sebesar 1,16%, Surya Tenggara Buana sebesar 1,21%, dan Gama Group sebesar 1,11%.
Persentase China Paradise HK turun dari 4,41% menjadi 4,34%, sedangkan Surya Tenggara Buana meningkat dari 1,06% menjadi 1,21%. Kepemilikan UBS AG Singapore Branch juga turun dari 1,37% menjadi 1,16%.
5. DGWG
PT Delta Giri Wacana Tbk (DGWG) adalah perusahaan pemasok kebutuhan pertanian yang menjalankan kegiatan usaha sejak 2001. Bisnis DGW Group mencakup lima pilar, yakni pestisida, pupuk, alat-alat pertanian, benih, serta distribusi internal.
Porsi free float DGWG tercatat sebesar 14,91%. Data yang ada menyebut David Yaory sebagai penerima manfaat akhir dengan kepemilikan sekitar 72%. David Yaory tercatat memiliki 72,34% saham perusahaan.
Pemegang saham lainnya antara lain Maybank Sekuritas Indonesia – Registrar sebesar 11,71%, Gaia Prosperiti Kapital sebesar 4,18%, Berkshire Multi Investama sebesar 3,26%, Marwati Jenny Tanasal sebesar 1,58%, dan Agro Jaya Mandiri sebesar 1,04%.
6. PSAB
PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) merupakan perusahaan induk yang berinvestasi dan mengelola bisnis pertambangan emas serta logam mulia lainnya di kawasan Australasia. Perusahaan mulai beroperasi secara komersial pada 1 Mei 2002.
Sebelum berfokus pada pertambangan, perusahaan pernah bergerak di bidang jasa katering. Perubahan bisnis terjadi setelah bergabungnya Avocet Mining Plc.
Data yang tersedia menyebut Jimmy Budiarto sebagai pemegang saham pengendali utama grup sekaligus penerima manfaat akhir, dengan kepemilikan UBO yang dilaporkan sebesar 92,50%.
Porsi free float PSAB tercatat sebesar 7,48%. Dari sisi pemegang saham, Jimmy Budiarto memiliki 90%, sedangkan Nomura Singapore tercatat sebesar 2,50% dan Suwantara Gotama sebesar 1,67%.
7. AGII
PT Samator Indo Gas Tbk (AGII), yang sebelumnya dikenal sebagai Aneka Gas Industri, didirikan pada 21 September 1971. Perusahaan bergerak di bidang perdagangan, jasa, dan industri berbagai jenis gas untuk kebutuhan industri dan medis. Produk yang dihasilkan mencakup oksigen, nitrogen, argon, asetilena, karbon dioksida, hidrogen, dan berbagai gas khusus lainnya.
Tercatat free float AGII sebesar 7,25%. Adapun penerima manfaat akhir yang disebut adalah Imelda Harsono dan Rachmat Harsono.
Struktur pemegang saham AGII terdiri atas Samator sebesar 35,24%, Matrix Company sebesar 32,18%, Aneka Mega Energi sebesar 15%, dan Saratoga Investama Sedaya sebesar 10%. Selain itu, Zico Trust tercatat memiliki 2,99%, sedangkan Ferry Sudjono tercatat sebesar 1,08%, naik dari angka sebelumnya yang tercatat 0%.
8. IFSH
PT Ifishdeco Tbk (IFSH) bergerak di bidang pertambangan nikel. Perusahaan awalnya mengembangkan agribisnis melalui penanaman pohon mete, tetapi survei topografi dan pengujian tanah yang dilakukan pada 2005–2008 menemukan kandungan nikel dan besi di lahan perkebunan.
Temuan tersebut kemudian menjadi dasar pengembangan usaha pertambangan perusahaan.
Porsi free float IFSH tercatat hanya 0,48%, salah satu yang paling rendah di antara delapan emiten ini. Struktur pemegang saham IFSH didominasi Fajar Mining Resources sebesar 40,80% dan Wahana Trilintas Mining sebesar 39,20%. Selain itu, Ifishdeco tercatat memiliki 9,49% saham, Fajar Jaya Investama sebesar 4,93%, dan Global Investasi Makmur sebesar 4,73%.
Fanni Susilo sendiri sebagai UBO dengan kepemilikan 5,50%, sedangkan Oei Harry Fong Jaya tercatat sebesar 0,14%.