Manuver BCA (BBCA) seusai Antrean Jual Saham Tembus 882 Ribu Lot
Saham bank swasta raksasa PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA tersungkur selama tiga hari perdagangan. Itu terjadi seusai MSCI mengumumkan konsultasi untuk mengklasifikasikan pasar modal Indonesia sebagai pasar mandiri (standalone market).
Tekanan tersebut sempat membawa harga saham perbankan Grup Djarum itu ke level terendah dalam lima tahun terakhir.
Hingga perdagangan sesi I hari ini, Rabu (21/10) antrean jual saham BBCA membengkak tembus 882.810 lot. Manajemen pun merespons dengan menggelar pembelian kembali saham atau buyback. Saham BBCA tercatat anjlok 15,51% secara mingguan.
Jika diurutkan, tekanan pada saham BBCA mulai terjadi pada Jumat (16/10) usai pengumuman MSCI yang kkehawatiran investor terhadap prospek pasar modal Indonesia. Saat perdagangan dibuka hari itu, saham BBCA langsung rontok 14,81% ke level Rp 5.175 per saham dan menyentuh batas auto rejection bawah (ARB).
ARB adalah batas maksimum penurunan harga saham dalam satu hari perdagangan. Ketika harga mencapai batas tersebut, sistem Bursa Efek Indonesia (BEI) menolak penawaran jual pada harga di bawah batas ARB yang berlaku.
Pada Jumat itu, investor asing mencatatkan jual bersih (net sell) saham BBCA sebesar Rp 2,32 triliun. Nilai transaksi saham BBCA di pasar reguler mencapai Rp 6,47 triliun.
Tekanan berlanjut pada Senin (19/10). Pada hari itu, BEI mengubah batas ARB dari 15% menjadi 7%. Ketika pasar dibuka, saham BBCA langsung melorot 6,86% ke level Rp 4.820 per saham dan menyentuh batas ARB. Level ini menjadi posisi terendahnya dalam lima tahun terakhir.
Sekitar pukul 09.30 WIB hari itu, manajemen BBCA mengumumkan rencana buyback saham yang berlangsung pada 19–21 Oktober 2026. Manajemen menyatakan, buyback tersebut mencerminkan keyakinan perseroan terhadap fundamental bisnis BBCA sekaligus menjadi upaya untuk mendukung stabilisasi pasar modal Indonesia.
“Aksi korporasi ini merupakan lanjutan dari realisasi program buyback saham yang sebelumnya dilaksanakan pada April dan Juni 2026 lalu,” tulis manajemen BBCA dalam keterangan resminya yang dikutip Senin (19/10).
Investor asing masih mencatatkan net sell sebesar Rp 986,9 miliar. Nilai transaksi saham BBCA di pasar reguler pada hari itu mencapai Rp 1,85 triliun.
Pada Selasa (20/10), saham BBCA mulai bangkit dengan melonjak 7,88% ke level Rp 5.200 per saham. Nilai transaksinya melonjak menjadi Rp 5,62 triliun. Meski harga saham berbalik menguat, investor asing masih membukukan net sell sebesar Rp 966,11 miliar.
Pergerakan saham BBCA kembali bergejolak pada Rabu (21/10). Saham dibuka hijau ke level Rp 5.300 per saham dan sempat menyentuh Rp 5.350. Namun, pada penutupan sesi pertama, saham BBCA berbalik turun 0,48% atau 25 poin ke level Rp 5.175 per saham.
Hingga sesi pertama perdagangan, saham BBCA tercatat diperdagangkan sebanyak 3 juta lot dengan harga rata-rata Rp 5.236 per saham. Nilai transaksinya mencapai Rp 1,57 triliun.
Antrean jual saham BBCA melebihi antrian beli yaitu sebesar 638.522. Investor tercatat mengantri untuk menjual saham BBCA mencapai 882.810 lot hingga siang hari. Namun investor asing justru berbalik mencatatkan beli bersih (net buy) sebesar Rp 296,94 miliar pada sesi pertama perdagangan.
Pada pukul 10.57 WIB, Katadata menerima surel dari manajemen BBCA mengenai perpanjangan periode buyback hingga Jumat (23/10). Sebelumnya, pembelian kembali saham dijadwalkan berakhir pada Rabu (21/10).
Di tengah kejatuhan saham BBCA, analis BinaArtha Sekuritas memberikan target harga saham BBCA ke level 5.00, 5.400, 5.900 dan 6.550 dengan catatan buy on weakness.