BIKE, BUMI, PACK Kompak Akuisisi Tambang, Bagaimana Prospek Sahamnya?
Sejumlah emiten, yakni PT Bhineka Inovasi Ketahanan Energi Tbk (BIKE), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), dan PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK), melakukan ekspansi bisnis melalui akuisisi perusahaan tambang. Meskipun membuka peluang diversifikasi usaha, prospek saham ketiga emiten tersebut masih perlu dicermati investor.
Aksi akuisisi ketiga emiten tersebut menyasar aset dan komoditas tambang yang berbeda, mulai dari batu bara di Kalimantan Timur, tembaga dan emas di Australia, hingga bijih nikel di Sulawesi Tengah.
BIKE Akuisisi 72% Saham Tambang Batu Bara di Berau
PT Bhineka Inovasi Ketahanan Energi Tbk (BIKE) melalui anak usahanya, PT Prambanan Nusantara Energi (PNE), resmi mengakuisisi 72% saham PT Berau Usaha Mandiri (BUM).
Dalam keterbukaan informasi yang disampaikan pada Rabu (28/10) kemarin, manajemen menjelaskan bahwa PT Berau Usaha Mandiri memiliki area tambang sekitar 500 hektare di Tanjung Redeb, Berau, Kalimantan Timur. Dari area yang telah dieksplorasi seluas sekitar 400 hektare, perusahaan mencatat cadangan terbukti batu bara sekitar 22 juta metrik ton.
Manajemen menargetkan produksi tambang tersebut mencapai 1,5 juta hingga 2,5 juta metrik ton per tahun. Akuisisi itu menjadi bagian dari strategi transformasi dan diversifikasi bisnis BIKE ke sektor energi.
BUMI Akuisisi Perusahaan Tambang Australia
Sementara itu, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) memperluas portofolio bisnis mineral melalui akuisisi 100% saham Mount Margaret Mining Pty Ltd, perusahaan yang didirikan berdasarkan hukum Australia.
Transaksi tersebut dilakukan pada 23 Oktober 2026 melalui Bumi Resources Australia Pty Ltd, anak usaha yang seluruh sahamnya dimiliki BUMI. Nilai akuisisi tercatat sebesar US$ 22,008 juta.
Akuisisi tersebut membuka peluang bagi BUMI untuk melakukan diversifikasi ke komoditas tembaga dan emas.
PACK Siapkan Akuisisi Tambang Nikel
Adapun PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK) berencana mengakuisisi 100% saham PT Bukit Makmur Istindo Nikeltama (Bumanik), perusahaan tambang bijih nikel yang beroperasi di Morowali Utara, Sulawesi Tengah.
Berdasarkan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 22 Oktober 2026, nilai transaksi direncanakan mencapai US$79 juta. Nilai akuisisi tersebut setara dengan 26,40% dari ekuitas konsolidasi PACK per 31 Agustus 2026.
PACK akan melaksanakan akuisisi melalui dua anak usahanya, yakni PT Daya Unggul Raya dan PT Gemilang Padma Raya.
Pandangan Analis
Meskipun terdapat ekspansi bisnis yang tampaknya cukup prospektif dari tiga emiten di atas, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M Nafan Aji Gusta, tidak memberikan rekomendasi terhadap saham BIKE, BUMI, maupun PACK untuk sekarang. "Untuk rekomendasi BIKE, BUMI, PACK saat ini adalah not rated!" kata Nafan kepada Katadata, Kamis (29/10).
Menurut dia, tren emiten lintas sektor yang masuk ke bisnis pertambangan perlu dilihat sebagai strategi diversifikasi usaha sekaligus upaya mencari sumber pertumbuhan pendapatan baru. Namun, akuisisi tambang tidak otomatis menjadi katalis positif yang berkelanjutan bagi harga saham.
"Pasar perlu menilai kualitas aset yang diakuisisi, harga transaksi, kemampuan menghasilkan arus kas, sumber pendanaan, serta kesesuaian ekspansi dengan kompetensi dan strategi bisnis perusahaan," ujarnya.
Secara umum, kata dia, respons positif pasar setelah pengumuman akuisisi bisa muncul karena ekspektasi terhadap potensi pendapatan dan nilai aset baru. Akan tetapi, kenaikan harga saham yang hanya ditopang sentimen tanpa dukungan fundamental berisiko tidak bertahan dalam jangka panjang.
Menurut Nafan, bagi emiten seperti BUMI, ekspansi ke komoditas emas dan tembaga dapat memperluas portofolio bisnis di luar batu bara. Adapun langkah BIKE memasuki bisnis batu bara menunjukkan strategi transformasi usaha. Sementara aksi korporasi PACK juga perlu dicermati dari sisi potensi kontribusi aset tambang yang diakuisisi terhadap kinerja keuangan perseroan.
Secara jangka pendek, kata dia, pengumuman akuisisi dapat menjadi katalis positif karena meningkatkan ekspektasi pasar terhadap pertumbuhan bisnis dan nilai aset perusahaan. "Namun, dalam jangka menengah hingga panjang, keberlanjutan kenaikan harga saham akan sangat ditentukan oleh realisasi investasi, kemampuan menghasilkan pendapatan, dan kontribusi laba dari aset yang diakuisisi," ucap Nafan.
Dari sisi fundamental, investor perlu mencermati setidaknya lima indikator utama, yaitu kualitas dan besaran cadangan tambang; nilai transaksi dibandingkan dengan nilai wajar aset; kebutuhan belanja modal; struktur pendanaan, serta; potensi arus kas dan profitabilitas setelah akuisisi.
Kualitas cadangan perlu dibuktikan melalui kajian teknis yang memadai, termasuk karakteristik komoditas, kadar mineral, estimasi biaya produksi, umur tambang, dan kesiapan operasional. Investor juga perlu memperhatikan apakah akuisisi dibiayai menggunakan kas internal, pinjaman, penerbitan saham baru, atau kombinasi beberapa instrumen karena masing-masing memiliki konsekuensi berbeda terhadap risiko keuangan dan potensi dilusi kepemilikan.
Selain itu, penting untuk mengevaluasi rasio utang, kemampuan membayar bunga, serta proyeksi arus kas bebas setelah memperhitungkan biaya pengembangan tambang. Akuisisi baru dapat dinilai menciptakan nilai tambah apabila potensi imbal hasilnya memadai dibandingkan dengan biaya modal dan risiko investasi yang ditanggung perusahaan.