IHSG Tertekan Sentimen MSCI, Rupiah Melemah dan Investor Asing Kabur

Katadata/Fauza Syahputra
Pekerja berada di dekat layar digital yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (23/10/2026). IHSG perdagangan akhir pekan ditutup menguat 0,95% atau naik 51,35 poin ke level 5.439,26 dengan sepanjang perdagangan, mayoritas saham bergerak menguat, dengan 477 saham naik, 187 saham melemah, dan 129 saham tidak mengalami perubahan.
30/10/2026, 06.30 WIB

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan bergerak negatif dan volatil pada perdagangan Jumat (30/10). Tekanan jual masih membayangi pasar saham domestik di tengah berlanjutnya arus keluar dana asing, pelemahan rupiah, serta ketidakpastian terkait evaluasi klasifikasi pasar Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Pada perdagangan Kamis (29/10), IHSG anjlok 3,49% ke level 5.098,06. Indeks bahkan ditutup mendekati level terendah hariannya di tengah tekanan jual yang menyasar sejumlah saham perbankan berkapitalisasi besar.

BRI Danareksa Sekuritas mencatat investor asing membukukan jual bersih atau net sell sebesar Rp1,52 triliun di pasar reguler. Saham perbankan seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menjadi sasaran tekanan jual.

Tekanan terhadap IHSG terjadi meskipun bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 3,75%–4%. Namun, keputusan tersebut tidak bulat karena dua pejabat mendukung kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin.

Inflasi Amerika Serikat yang tetap tinggi juga mendorong pelaku pasar memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga pada Desember mendatang. Dari dalam negeri, pelemahan rupiah dan arus keluar modal asing menjadi risiko utama bagi pergerakan indeks. 

Ketidakpastian mengenai evaluasi MSCI terhadap klasifikasi pasar Indonesia turut mendorong investor bersikap lebih berhati-hati. BRI Danareksa Sekuritas menilai tren penurunan IHSG masih dominan setelah indeks menembus level support 5.170 dan ditutup di posisi 5.098,06.

Indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD) masih berada di zona negatif dan menunjukkan pelemahan momentum. 

“Sementara harga berada jauh di bawah MA20 sekitar 5.646, menegaskan tren turun masih dominan. IHSG berpotensi menguji support Fibonacci di 5.026, kemudian 4.942,” tulis BRI Danareksa, Jumat (30/10).

Sementara itu, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia M. Nafan Aji Gusta memperkirakan sentimen IHSG pada Jumat (30/10) masih negatif dan volatil, meskipun peluang penguatan teknikal atau technical rebound tetap terbuka.

Menurut Nafan, IHSG membentuk pola penurunan yang menunjukkan tekanan jual masih mendominasi perdagangan. Sejumlah indikator teknikal, seperti Stochastics K_D dan Relative Strength Index (RSI), juga menunjukkan sinyal negatif. Sementara itu, volume perdagangan tercatat menurun.

Meski demikian, pola pergerakan indeks menunjukkan potensi penurunan yang relatif terbatas. Nafan memperkirakan IHSG memiliki level support di 4.969 dan 4.907. Sementara itu, level resistance berada di 5.246 dan 5.326.

Tekanan dari Saham Teknologi

Dari pasar global, tekanan juga datang dari saham-saham teknologi Amerika Serikat di tengah meningkatnya kekhawatiran investor terhadap prospek monetisasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Saham Alphabet, induk Google, dilaporkan anjlok sekitar 12,6% setelah kinerja laba kuartalannya tidak memenuhi ekspektasi pasar. Kondisi tersebut menunjukkan investor mulai lebih selektif dalam menilai perusahaan teknologi yang menggelontorkan belanja modal besar untuk pengembangan AI.

Di sisi makroekonomi, pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat yang relatif kuat dan inflasi yang masih berada di atas target The Fed dapat membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter. Suku bunga yang bertahan tinggi lebih lama berpotensi menekan valuasi saham, terutama yang berorientasi pada pertumbuhan.

Di sisi lain, penurunan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun sebesar 2,32% menjadi 4,934% menunjukkan adanya peralihan dana ke aset yang lebih defensif. Untuk pasar domestik, perhatian investor tertuju pada upaya pembenahan transparansi kepemilikan saham dan aksesibilitas pasar menyusul evaluasi MSCI. 

Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti sebelumnya menyebut peringatan MSCI sebagai guncangan jangka pendek dan menilai pemulihan pasar tetap memungkinkan apabila persoalan tersebut dibenahi. Pelaku pasar juga mencermati rencana Bursa Efek Indonesia (BEI) mengecualikan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC) dari perhitungan IHSG mulai 2 November 2026.

Meski demikian, terdapat sejumlah faktor penahan tekanan. Rupiah menguat 0,32% ke level Rp 18.132 per dolar AS setelah keputusan The Fed mempertahankan suku bunga. Stabilnya harga minyak juga berpotensi membantu membatasi tekanan terhadap indeks.

Investor selanjutnya akan mencermati perkembangan kebijakan BEI dan MSCI, serta rilis data perdagangan Indonesia September dan inflasi Oktober pada pekan depan.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nuzulia Nur Rahmah