Detoksifikasi Bursa ala OJK dan SRO, Kapan IHSG Akan Pulih?
Pasar saham Indonesia masih berdarah-darah sepanjang tahun berjalan. Padahal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama self regulatory organizations atau SROs pasar modal sudah melakukan sederet upaya untuk mereformasi bursa agar menjadi lebih sehat.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, mengibaratkan kondisi yang dialami bursa Tanah Air saat ini sebagai proses “detoksifikasi”. Menurut perempuan yang akrab disapa Kiki itu, OJK dan SROs melakukan reformasi besar-besaran di pasar saham supaya berbagai hal yang tidak baik keluar dari perhitungan indeks, sehingga akan mencerminkan indeks yang sebenarnya.
Namun, ia yakin ke depan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan sehat dan bergerak dengan nilai yang sebenarnya.
Dari kejatuhan IHSG sebesar 42,97% secara year to date (ytd), yang paling merasakan dampaknya adalah investor ritel. Pasalnya, berdasarkan data bursa, investor ritel menyumbang persentase paling besar dari dari rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) Bursa Efek Indonesia (BEI).
Berdasarkan data tahun buku 2025, investor ritel berkontribusi 50% terhadap RNTH, dibandingkan investor-investor lainnya. Berikut data lengkapnya:
| Tahun | Retail | Corporate | Financial Institution | Securities Company & Mutual Fund | Other Institutions |
| 2021 | 56% | 13% | 13% | 7% | 10% |
| 2022 | 45% | 11% | 18% | 9% | 17% |
| 2023 | 38% | 10% | 22% | 5% | 25% |
| 2024 | 33% | 7% | 26% | 6% | 28% |
| 2025 | 50% | 11% | 23% | 8% | 8% |
(Sumber: BEI/ diolah Katadata)
Kiki mengatakan, pergerakan IHSG tidak terlepas dari dinamika global. Beberapa di antaranya seperti ketegangan geopolitik, tekanan inflasi dan ekspektasi suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama (higher for longer).
Selain itu, reformasi struktural yang tengah berlangsung di pasar modal Indonesia turut memengaruhi pergerakan indeks. "Ini seperti mungkin kayak detoks (detoksifikasi). Kalau keluarin yang enggak bagus-bagus dan lain-lain, mungkin akan sangat tercermin di kondisi IHSG saat ini," kata Kiki dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Jakarta, Rabu (4/11) lalu.
Kendati demikian, Kiki meminta investor tidak hanya melihat pergerakan IHSG, tetapi juga memperhatikan fundamental pasar modal Indonesia. Menurut dia, kinerja emiten pada kuartal II 2026 masih menunjukkan hasil yang positif. Selain itu, minat korporasi domestik untuk menghimpun dana melalui pasar modal juga tetap tinggi.
Kiki menyatakan, reformasi pasar modal tidak semata-mata dilakukan untuk memenuhi masukan penyedia indeks global, tetapi juga menjadi bagian dari komitmen OJK dalam meningkatkan kualitas pasar modal Indonesia.
Kepala Eksekutif Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi mengatakan, penyesuaian harga saham merupakan konsekuensi dari proses untuk menjadikan pasar menjadi lebih sehat dan wajar. Menurut dia, keberhasilan reformasi pasar modal tidak cukup diukur dari pergerakan IHSG dalam jangka pendek. Ukuran utamanya adalah kemampuan pasar modal Indonesia untuk kembali menarik kepercayaan dan minat investor maupun emiten.
"Pada akhirnya, ukuran keberhasilan dari agenda reformasi di pasar modal tentu dapat dilihat nantinya dari bagaimana pasar modal akan kembali mendapatkan kepercayaan dan minat dari para investor maupun emiten," ujar Hasan dalam RDKB Oktober, Kamis (5/11).
Ia mengatakan, peningkatan integritas, transparansi dan kepercayaan investor secara berkelanjutan menjadi tujuan utama dari rangkaian reformasi tersebut.
Asing Net Sell Rp 98,41 Triliun dari Pasar Saham RI, Apa Dampaknya?
Berdasarkan data BEI hingga Kamis (5/11), nilai jual bersih atau net sell investor asing secara ytd mencapai Rp 98,41 triliun. Sementara itu, berdasarkan aktivitas perdagangan saham di BEI masih didominasi investor domestik. Sejak awal tahun, investor lokal menyumbang 65% dari total nilai transaksi, sedangkan investor asing berkontribusi sebesar 35%.
Dominasi investor domestik juga terlihat dalam struktur perdagangan saham selama lima tahun terakhir berdasarkan rata-rata nilai transaksi harian atau average daily value (ADTV). Namun, porsi transaksi investor asing sempat meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Pada 2021, investor domestik menyumbang 75% dari total nilai transaksi harian, sedangkan investor asing sebesar 25%. Porsi asing kemudian meningkat menjadi 33% pada 2022, 37% pada 2023, hingga mencapai 42% pada 2024.
Namun, tren tersebut berbalik pada 2025. Kontribusi investor domestik kembali meningkat menjadi 64%, sementara porsi investor asing turun menjadi 36%.
| Tahun | Total transaksi harian | Domestik | Asing |
| 2021 | Rp13,37 T | 75% | 25% |
| 2022 | Rp14,71 T | 67% | 33% |
| 2023 | Rp10,75 T | 63% | 37% |
| 2024 | Rp12,85 T | 58% | 42% |
| 2025 | Rp18,07 T | 64% | 36% |
(Sumber: BEI, diolah Katadata)
Di sisi lain, jumlah investor pasar modal Indonesia terus bertambah. Berdasarkan data OJK, jumlah investor bertambah 1,38 juta pada Oktober 2026 dibandingkan bulan sebelumnya. Dengan demikian, total investor pasar modal mencapai 33,55 juta atau tumbuh 64,75% sejak awal tahun.
Hasan mengatakan, keluarnya dana asing dari pasar saham Indonesia dipengaruhi berbagai faktor, baik dari dalam negeri maupun global. Karena itu, OJK akan terus mendorong pembenahan fundamental dan meningkatkan kualitas penyelenggaraan pasar modal secara berkelanjutan.
"Dalam kaitan tersebut, OJK bersama SRO dan juga para pelaku di pasar modal terus mempercepat implementasi agenda-agenda reformasi integritas pasar modal kita," ujar Hasan dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) Oktober OJK secara virtual, Kamis (5/11).
Hasan mengatakan, reformasi pasar modal mencakup sejumlah aspek, antara lain peningkatan batas minimum saham beredar di publik (free float), transparansi informasi kepemilikan saham dan pemilik manfaat akhir (beneficial ownership), serta penerapan mekanisme pengumuman konsentrasi kepemilikan saham (high shareholding concentration).
Selain itu, OJK memperkuat tata kelola, pengawasan transaksi, dan penegakan hukum. Peningkatan transparansi informasi dan kapasitas pengawasan juga akan dimanfaatkan untuk memperkuat analisis berbasis data guna mengidentifikasi transaksi tidak wajar maupun indikasi manipulasi pasar.
Jika menemukan indikasi pelanggaran, OJK akan menindaklanjutinya melalui pemeriksaan dan penegakan hukum sesuai ketentuan yang berlaku. Langkah tersebut juga dapat mencakup jalur pidana apabila ditemukan unsur tindak pidana.
OJK bersama SROs dan pelaku industri juga terus memantau arus modal asing, termasuk potensi dampaknya terhadap likuiditas, volatilitas, dan risikonsistemik di pasar keuangan.
Hasan mengatakan, OJK memiliki sejumlah instrumen stabilisasi yang dapat digunakan secara terukur dan proporsional apabila tekanan pasar dinilai berlebihan. Penerapannya akan disesuaikan dengan perkembangan kondisi pasar.