Tips Berburu Saham Diskon BBCA hingga MEDC di Tengah Bayang-Bayang MSCI
Saham-saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) sedang diskon besar-besaran. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bahkan telah anjlok 41,59% sejak awal tahun atau secara year to date (ytd) ke level 5.050 pada penutupan perdagangan Jumat (6/11) ini.
Analis menilai koreksi harga saham sepanjang tahun berjalan membuat valuasi pasar saham Indonesia semakin menarik bagi investor yang ingin mulai mengakumulasi saham. Namun, investor tetap perlu mencermati sejumlah sentimen yang berpotensi memengaruhi pergerakan pasar, terutama pengumuman November 2026 Index Review oleh penyedia indeks global MSCI pada Kamis (12/11) pekan depan.
Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama mengatakan, valuasi pasar saham Indonesia telah mengalami koreksi sejak awal tahun. Berdasarkan statistik digital BEI, data terakhir yang terverifikasi pada Juli 2026 menunjukkan rasio price to earnings (PER) IHSG sebesar 12,68 kali dan price to book value (PBV) sebesar 1,66 kali.
PER dan PBV adalah dua rasio yang sering digunakan investor untuk menilai apakah harga saham suatu perusahaan tergolong mahal atau murah dibandingkan dengan kinerja dan nilai perusahaannya. PER membandingkan harga pasar suatu saham dengan laba bersih yang dihasilkan perusahaan per lembarnya atau earnings per share (EPS). Sementara PBV membandingkan harga pasar saham dengan nilai buku (book value) atau kekayaan bersih per lembar saham yang tercatat di neraca keuangan.
Menurut Elandry, terkoreksninya valuasi saham-saham di BEI membuka peluang bagi investor untuk mencermati saham-saham dengan harga relatif murah, tetapi masih memiliki fundamental dan prospek pertumbuhan yang sehat.
Ada beberapa saham yang direkomendasikan Elandry, di antaranya yaitu PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), PT Elnusa Tbk (ELSA) dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP). “Fokus pada emiten dengan fundamental dan pertumbuhan laba yang sehat,” ujar Elandry kepada Katadata, Jumat (6/11).
Salah satu saham yang valuasinya terkoreksi adalah BBCA. Berdasarkan data Stockbit yang dihimpun Katadata, PER BBCA berdasarkan laba 12 bulan terakhir atau trailing twelve months (TTM) tercatat sebesar 10,70 kali. Angka tersebut menjadi yang terendah dalam 10 tahun terakhir. PER TTM BBCA sempat tercatat 32,35x pada 21 Januari 2022. Saat itu harga saham BBCA mencapai Rp 7.950.
Sementara itu, rasio PE berdasarkan laba yang disetahunkan atau PER annualised tercatat sebesar 10,58 kali. Adapun PBV BBCA berada di level 2,24 kali. Harga saham BBCA tercatat Rp 5.150 per saham berdasarkan data perdagangan BEI pada Jumat (6/11) pukul 15.38 WIB.
Investment Growth Specialist Korea Investment Sekuritas Indonesia, Ahmad Faris Mu'tashim mengatakan, berdasarkan valuasi IHSG pada akhir Oktober, dengan PER sekitar 9 kali dan PBV 1,3 kali, saham-saham sektor logam dan komoditas energi masih menawarkan potensi kenaikan harga yang menarik. Hal ini terutama didukung oleh potensi imbal hasil dividen atau dividend yield.
“Namun untuk sektor perbankan bisa dijadikan alternatif untuk horizon yang lebih panjang,” kata Ahmad.
Meskipun valuasi saham telah terkoreksi cukup dalam, Elandry mengingatkan investor agar tidak langsung mengalokasikan seluruh dana untuk membeli saham. Ia menyarankan strategi akumulasi secara bertahap demi mengantisipasi potensi volatilitas pasar.
Menurut dia, pengumuman MSCI Index Review pada 12 November waktu Indonesia berpotensi memengaruhi sentimen pasar dan aliran modal (capital flow) ke pasar saham domestik. Elandry menyarankan investor menerapkan strategi akumulasi dengan skema 30%-30%-40%, sembari tetap menjaga ketersediaan dana tunai atau likuiditas.
“Untuk mengantisipasi volatilitas pasca pengumuman,” ujar dia.
Sementara itu, Ahmad menilai risiko yang perlu lebih dicermati investor saat menentukan waktu pembelian saham bukan hanya ketidakpastian terkait MSCI, melainkan juga potensi risiko pembiayaan sirkular di sektor kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Menurut dia, persoalan tersebut berpotensi memicu tekanan likuiditas di pasar. Karena itu, investor perlu menjaga likuiditas dan tidak terburu-buru mengalokasikan seluruh dananya ke saham.
Penafian:
Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab investor. Artikel ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu.