Bitcoin Tembus Level US$54.000, Tertinggi Sejak Desember 2021

123rf.com/traviswolfe
Harga Bitcoin melesat di atas level US$54.000 (Rp 837 juta) pada perdagangan Senin (26/2).
Penulis: Hari Widowati
27/2/2024, 10.23 WIB

Harga Bitcoin melesat di atas level US$54.000 (Rp 837 juta) pada perdagangan Senin (26/2). Menurut Coin Metrics, mata uang kripto unggulan ini terakhir naik 5% ke level US$54.460 (Rp 844,13 juta) setelah sebelumnya menyentuh US$54.965,26 (Rp 851,96 juta) yang merupakan level tertinggi sejak Desember 2021.

"Hari ini adalah hari penyelesaian untuk Bitcoin futures, yang berkontribusi pada lonjakan harga yang kita lihat. Saya menduga ini adalah hari di mana orang-orang mulai masuk ke posisi bullish sebelum halving," kata Ryan Rasmussen, analis di Bitwise Asset Management seperti dikutip CNBC.com.

Bitcoin halving merupakan periode yang sangat ditunggu-tunggu oleh investor dan terjadi empat tahun sekali. Pada periode ini, imbalan (reward) atas penambangan kripto akan dipotong setengahnya. Bitcoin halving diperkirakan akan terjadi pada April mendatang dengan pasokan koin yang dirilis senilai 1.312.500 BTC, dengan imbalan untuk para penambang yang akan dikurangi menjadi 3.125 BTC.

Sebagian besar pasar kripto mendapat dorongan dari Bitcoin. Ether naik lebih dari 2% dan diperdagangkan pada US$3.173,87 (Rp 49,19 juta). Solana melonjak lebih dari 5%, Cardano dan token Cardano naik sekitar 4%. Sementara itu, token MATIC milik Polygon melejit 8%.

Saham-saham yang terkait kripto juga melonjak. Saham Coinbase dan Microstrategy melonjak 16%. Riot dan Marathon Digital yang merupakan platform penambang bitcoin terbesar, harga sahamnya melonjak masing-masing 15% dan 20%.

Dorongan dari Investor Retail

Harga Bitcoin bergerak mendatar sepekan menjelang hari Senin ketika level US$54.000 ditembus. Hal ini menempatkan Bitcoin di jalur yang benar untuk kenaikan bulanan sebesar 27%.

"Bitcoin telah berada di sekitar US$52.000 (Rp 806 juta) selama dua minggu terakhir dan mencari peluang untuk menembus level baru," kata Owen Lau, analis di Oppenheimer, yang mengutip perkembangan idiosinkratik yang positif dalam regulasi kripto dan peningkatan partisipasi retail.

Dalam risetnya baru-baru ini, Nikolaos Panigirtzoglou dari JPMorgan menunjukkan bahwa setelah berhenti sejenak di Januari, selera investor retail mendorong pemulihan harga kripto pada Februari dan menjadi faktor signifikan yang berpengaruh terhadap kenaikan harga kripto.

Dia menunjuk tiga katalis utama yang membantu menjelaskan minat investor retail. Yang pertama adalah Bitcoin halving. Kedua, peningkatan teknologi Ethereum berikutnya. JPMorgan menilai kedua faktor ini membuat aset kripto mencapai harga yang pantas. Faktor ketiga adalah potensi persetujuan regulator AS (US SEC) terhadap reksa dana yang diperdagangkan (ETF) spot Ether.