Bursa saham Amerika Serikat, Wall Street ditutup bervariasi pada perdagangan Selasa (21/10) waktu setempat. Indeks Dow Jones Industrial Average menjadi penopang setelah serangkaian laporan keuangan yang solid yang menarik minat investor ke sektor industri dan barang modal.

Dow Jones naik 218,16 poin atau 0,47% ke level 46.924,74. Sementara itu, S&P 500 naik tipis 0,22 poin ke 6.735,35 dan Nasdaq Composite turun 36,88 poin atau 0,16% ke posisi 22.953,67.

Dari 11 sektor utama dalam indeks S&P 500, sektor konsumen diskresioner dan industri mencatat kenaikan tertinggi, sedangkan sektor utilitas mengalami penurunan terdalam.

S&P 500 nyaris tidak berubah saat penutupan, sementara pelemahan saham pertumbuhan dan produsen cip menekan Nasdaq yang sarat emiten teknologi.

“Kita berada di titik yang agak ragu-ragu, di mana tidak ada yang benar-benar yakin terhadap arah pasar. Itu tercermin dari reaksi yang semakin kecil terhadap kejutan laba,” ujar Michael Green, Kepala Strategi di Simplify Asset Management di Philadelphia, dikutip dari Reuters, Rabu (22/10).

Musim laporan keuangan kuartal III memasuki fase padat dengan sejumlah raksasa industri seperti General Motors (GM), GE Aerospace, 3M dan Coca-Cola melaporkan hasil yang umumnya positif.

Namun, dengan indeks utama AS mendekati rekor tertinggi dan valuasi yang tinggi, hasil yang baik saja dinilai belum cukup untuk menjaga selera risiko investor.

Saham General Motors melonjak 14,9% setelah menaikkan proyeksi kinerja dan meredam dampak tarif impor yang diantisipasi. Coca-Cola naik 4,1% berkat permintaan konsumen yang solid, sementara 3M menguat 7,7% usai menaikkan proyeksi setahun penuh karena fokus pada produk bermargin tinggi dan efisiensi biaya.

Hingga kini, 78 perusahaan di indeks S&P 500 telah merilis laporan keuangannya. Dari jumlah tersebut, 87% melampaui ekspektasi analis. Menurut data LSEG, pertumbuhan laba agregat kuartal III diperkirakan mencapai 9,2% yoy naik dari estimasi awal 8,8% pada 1 Oktober.

Di sisi lain, penutupan sebagian pemerintahan AS yang memasuki minggu ketiga turut menciptakan ketidakpastian. Ketiadaan data ekonomi resmi menyulitkan Federal Reserve dalam mengambil keputusan berbasis data.

Kendati demikian, jajak pendapat Reuters terhadap ekonom memperkirakan bank sentral masih akan menurunkan suku bunga acuan sebanyak dua kali, masing-masing sebesar 25 basis poin, hingga akhir tahun. Namun arah kebijakan Fed pada 2026 masih menjadi perdebatan.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menyuarakan optimisme terhadap hubungan dagang dengan Cina. Ia berharap dapat mencapai kesepakatan yang adil dengan Presiden Xi Jinping, sambil meredakan ketegangan atas isu Taiwan. Pertemuan keduanya dijadwalkan berlangsung di sela-sela KTT ekonomi di Korea Selatan pekan depan.

Di Bursa Efek New York (NYSE), jumlah saham yang naik melebihi yang turun dengan rasio 1,27:1. Terdapat 302 saham mencatat harga tertinggi baru dan 47 saham mencapai titik terendah baru.

Sementara di Nasdaq, 2.203 saham naik dan 2.454 saham turun, dengan rasio 1,11:1 untuk saham yang melemah terhadap yang menguat.

Volume perdagangan saham AS tercatat 19,73 miliar saham, sedikit di bawah rata-rata 20 hari terakhir yang mencapai 20,26 miliar saham.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Karunia Putri