Harga Emas Hari Ini 13 Januari 2026, Analis Sebut Kenaikan Potensi Berlanjut
Harga emas dunia kembali melanjutkan penguatan. Pada perdagangan Selasa (13/1) harga emas Antam melanjutkan tren lonjakan sejak 10 Januari.
Merujuk laman Logam Mulia harga emas antam kini naik Rp 21.000 dari semula Rp 2.631.000 menjadi Rp 2.652.000 per gram. Begitu pula harga jual kembali (buyback) turut naik ke angka Rp 2.503.000 per gram.
Searah dengan harga emas antam, harga emas di pegadaian juga mengalami kenaikan. Harga jual emas Galeri24 meroket dari awalnya Rp 2.596.000 menjadi Rp 2.661.000 per gram (gr) atau naik Rp 65.000.
Sedangkan harga emas UBS naik menjadi Rp 2.716.000 dari semula dibanderol dengan harga Rp 2.652.000 per gram atau naik Rp 64.000. Emas Galeri24 dijual dengan kuantitas 0,5 gram hingga 1.000 gram atau 1 kilogram. Sementara emas UBS dijual dengan kuantitas 0,5 gram hingga 500 gram.
Analis (Dupoin) Andy Nugraha menyatakan kenaikan harga yang melonjak menembus level psikologis $4.600 per troy ounce. Lonjakan tersebut dipicu oleh meningkatnya arus dana ke aset aman menyusul munculnya ketidakpastian besar di Amerika Serikat setelah Departemen Kehakiman AS mengajukan tuntutan terhadap Ketua Federal Reserve Jerome Powell.
Pada perdagangan terakhir, emas diperdagangkan di sekitar $4.606 naik lebih dari 2% dalam satu sesi. Menurut Andy, hal ini menandai kuatnya minat investor terhadap logam mulia di tengah guncangan kepercayaan terhadap stabilitas institusional AS.
Andy mengatakan struktur teknikal emas saat ini menunjukkan tren bullish yang semakin solid. Kombinasi pola candlestick dan indikator Moving Average mengonfirmasi bahwa tekanan beli masih mendominasi pasar, bahkan setelah harga mencatatkan rekor tertinggi baru.
“Selama harga mampu bertahan di atas zona penopang jangka pendek, peluang kelanjutan reli masih terbuka lebar,” ujar Andy seperti dikutip Selasa (13/1).
Menurut Andy, jika tekanan bullish berlanjut, emas berpotensi menguji area $4.650 sebagai target kenaikan berikutnya. Namun, ia juga menekankan pentingnya mewaspadai potensi koreksi teknis.
“Jika harga gagal mempertahankan momentum dan mulai berbalik arah, maka area $4.565 diperkirakan menjadi support terdekat yang dapat menahan tekanan jual,” ujar Andy lagi.
Faktor Penopang Kenaikan Emas
Dari sisi fundamental, reli emas kali ini didorong oleh eskalasi risiko politik dan keuangan di Amerika Serikat. Jerome Powell mengungkapkan bahwa dirinya sedang berada dalam penyelidikan kriminal, setelah Departemen Kehakiman AS mengeluarkan surat panggilan terkait kesaksiannya di hadapan Komite Perbankan Senat mengenai proyek renovasi senilai miliaran dolar untuk kantor pusat Fed.
Powell menyebut langkah tersebut sebagai upaya untuk menekan independensi bank sentral agar memangkas suku bunga. Situasi ini memicu kekhawatiran pasar tentang stabilitas kebijakan moneter dan mendorong investor global beralih ke aset safe-haven seperti emas.
Ketegangan geopolitik juga menambah daya tarik logam mulia. Hubungan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah Presiden Donald Trump mengancam akan menjatuhkan sanksi dan tarif terhadap negara atau perusahaan yang tetap berbisnis dengan Teheran.
Iran pada saat yang sama memperingatkan AS dan Israel agar tidak melakukan intervensi. Lingkungan geopolitik yang semakin rapuh ini memperkuat permintaan terhadap emas sebagai pelindung nilai di tengah meningkatnya risiko konflik dan ketidakpastian global.
Di sisi makroekonomi, perhatian pasar kini tertuju pada rilis data inflasi Indeks Harga Konsumen AS. CPI diperkirakan naik secara tahunan, dan jika hasilnya lebih tinggi dari ekspektasi, dolar AS bisa menguat sehingga berpotensi menekan harga emas dalam jangka pendek.
Andy menilai bahwa prospek emas dalam jangka pendek hingga menengah masih cenderung positif. Menurut dia, selama ketidakpastian politik di AS, ketegangan geopolitik, dan ekspektasi kebijakan moneter yang lebih longgar terus membayangi pasar, emas diperkirakan tetap berada dalam tren kenaikan.