Bagaimana Gen Z Menyiapkan Dana Pensiun Berdasarkan Aturan 4%?
Pensiun mungkin terasa seperti urusan yang terlampau jauh bagi Gen Z. Perlu puluhan tahun lagi untuk sampai ke sana. Namun, justru jangka waktu yang lama tersebut menjadi salah satu keuntungan terbesar bagi Gen Z untuk menyiapkan dana pensiun.
Semakin lama uang diinvestasikan, semakin panjang waktu yang tersedia untuk mengembangkan aset. Karena itu, mempersiapkan dana pensiun tidak harus dimulai ketika seseorang mendekati usia pensiun.
Salah satu cara sederhana untuk memperkirakan kebutuhan dana pensiun adalah aturan 4% atau 4% rule. Aturan ini menjawab satu pertanyaan penting terkait berapa besar aset yang perlu dimiliki agar seseorang dapat membiayai hidupnya setelah berhenti bekerja selama 30 tahun lagi.
Aturan 4% diperkenalkan oleh seorang perencana keuangan dan lulusan MIT, William P. Bengen atau Bill Bengen, pada 1994. Konsep ini diuji coba berdasarkan skenario terburuk yang terjadi dalam sejarah bursa saham dan obligasi di AS pada periode 1926-1968, untuk memastikan dana yang disiapkan bisa bertahan selama masa pensiun.
Berdasarkan aturan ini, biaya hidup selama setahun setelah pensiun tidak boleh lebih dari 4% dari 'tabungan' yang disiapkan. Misalnya, Rangga memperkirakan membutuhkan Rp5 juta per bulan untuk memenuhi kebutuhan hidup saat ini. Berarti Rangga membutuhkan biaya hidup Rp60 juta dalam setahun.
Berdasarkan aturan 4%, kebutuhan tersebut menghasilkan target dana pensiun sebagai berikut:
Rp60 juta ÷ 4% = Rp1,5 miliar
Jika Rangga pensiun saat ini, ia membutuhkan aset sekitar Rp1,5 miliar dalam portofolio investasi untuk membiayai pengeluaran Rp60 juta per tahun dengan asumsi tingkat penarikan 4%.
Namun, saat ini Rangga masih berusia 25 tahun dan baru berencana pensiun pada usia 60 tahun. Ada jarak 35 tahun antara kondisi saat ini dan masa pensiun. Selama periode tersebut, harga barang dan jasa kemungkinan terus meningkat akibat inflasi.
Jika inflasi rata-rata berada di 3% per tahun, kebutuhan Rp5 juta per bulan saat ini akan menjadi sekitar Rp14,1 juta per bulan ketika Rangga berusia 60 tahun.
Dengan demikian, kebutuhan hidup Rangga saat pensiun menjadi sekitar Rp169 juta per tahun.
Jika angka tersebut dihitung menggunakan 4% rule:
Rp169 juta ÷ 4% = sekitar Rp4,2 miliar.
Target dana pensiun Rangga pun berubah dari Rp1,5 miliar menjadi sekitar Rp4,2 miliar. Perubahan ini terjadi karena Rp5 juta yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup hari ini memiliki daya beli yang berbeda 35 tahun mendatang.
Karena itu, menghitung dana pensiun tidak cukup dengan melihat pengeluaran saat ini. Gen Z perlu memperhitungkan inflasi ketika menentukan target. Dengan asumsi inflasi 3% per tahun, kebutuhan hidup Rp5 juta per bulan hari ini perlu disiapkan menjadi sekitar Rp14,1 juta per bulan pada usia 60 tahun.
Pertanyaannya bukan lagi sekadar, "Berapa uang yang saya butuhkan untuk pensiun?" Ketika menyiapkan dana pensiun, pertanyaannya menjadi, "Berapa biaya hidup yang saya perlukan ketika benar-benar pensiun, dan berapa aset yang harus saya kumpulkan untuk membiayainya?"
Berapa Dana yang Perlu Diinvestasikan?
Jika diasumsikan target dana pensiun seseorang adalah sekitar Rp4,2 miliar pada usia 60 tahun. Ia mulai dari nol pada usia 25 tahun dan memiliki waktu 35 tahun.
Jika menggunakan asumsi imbal hasil investasi rata-rata 7% per tahun dan investasi dilakukan setiap bulan, kebutuhan investasinya berada di kisaran Rp2,3 juta per bulan.
Namun, angka tersebut merupakan simulasi, bukan hasil yang dijamin. Imbal hasil investasi dapat naik dan turun sesuai kondisi pasar dan instrumen investasi yang dipilih.
Jika seseorang baru mulai menyisihkan dana pensiun pada usia 35 tahun, waktu investasinya menjadi 25 tahun. Dengan asumsi yang sama, kebutuhan investasinya meningkat menjadi sekitar Rp5,2 juta per bulan.
Jika baru mulai pada usia 45 tahun dan hanya memiliki waktu 15 tahun, kebutuhan investasinya mencapai sekitar Rp13,2 juta per bulan.
Perbedaan tersebut menunjukkan pentingnya memulai persiapan dana pensiun sejak dini. Semakin panjang waktu investasi, semakin besar kesempatan untuk memanfaatkan pertumbuhan investasi dan bunga berbunga.
4% Rule Bukan Aturan Pasti
Meski menjadi acuan di dunia keuangan, aturan ini tidak menjamin seseorang dapat menarik 4% dari portofolio setiap tahun tanpa kehabisan uang. Hasil investasi, inflasi, kondisi pasar, pajak, biaya investasi, dan panjang masa pensiun dapat memengaruhi hasil akhirnya.
Bagi seseorang yang ingin pensiun sangat dini, misalnya pada usia 45 tahun, masa penggunaan dana bisa jauh lebih panjang dibandingkan pensiun pada usia 60 atau 65 tahun.
Karena itu, 4% rule sebaiknya digunakan sebagai titik awal untuk membuat target. Perencanaan yang lebih konservatif dapat menggunakan tingkat penarikan 3% atau 3,5%.
Dengan kebutuhan pensiun sekitar Rp169 juta per tahun:
- Dengan asumsi penarikan 4%, membutuhkan sekitar Rp4,2 miliar
- Dengan asumsi penarikan 3,5%, membutuhkan sekitar Rp4,8 miliar
- Dengan asumsi penarikan 3%, membutuhkan sekitar Rp5,6 miliar
Semakin rendah tingkat penarikan yang digunakan, semakin besar dana yang perlu disiapkan.
Mulai dengan Angka yang Realistis
Bagi Gen Z yang baru bekerja, target sekitar Rp4,2 miliar mungkin terasa terlalu jauh. Target tersebut dapat dipecah menjadi langkah yang lebih sederhana.
Berikut ini rinciannya:
- Usia 25 tahun: mulai investasi sekitar Rp2,3 juta per bulan.
- Usia 30 tahun: tingkatkan investasi setelah penghasilan naik.
- Usia 35 tahun: evaluasi apakah kontribusi sudah mengikuti kenaikan kebutuhan pensiun.
- Usia 40 tahun: hitung ulang target berdasarkan aset yang sudah terkumpul.
- Usia 50 tahun: mulai mengurangi risiko portofolio secara bertahap sesuai kebutuhan dan kondisi pribadi.
Yang perlu dijaga adalah tingkat tabungan dan investasi ikut meningkat ketika penghasilan bertambah.
Aturan 4% memberikan cara sederhana untuk melihat hubungan antara biaya hidup dan kebutuhan aset. Jika seseorang membutuhkan Rp5 juta per bulan dalam nilai uang hari ini, kebutuhan dana pensiunnya tidak berhenti di Rp1,5 miliar.
Dengan asumsi inflasi 3% selama 35 tahun, kebutuhan tersebut menjadi sekitar Rp14,1 juta per bulan saat pensiun. Angka itu membutuhkan portofolio sekitar Rp4,2 miliar berdasarkan tingkat penarikan 4%.
Semakin awal persiapan dimulai, semakin panjang waktu yang tersedia untuk membangun dana tersebut.
Penulis: Reihan Cahya (magang)