Edisi Khusus | Bulan Inklusi Keuangan

Program Promise II Impact ILO Salurkan Pembiayaan Rp 584,3 Miliar untuk UMKM

Dok. ILO
Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) akan meluncurkan Promise to Impact III setelah Promise to Impact II sukses menyalurkan pembiayaan Rp 584,3 miliar kepada ribuan UMKM dan usahawan.
Penulis: Hari Widowati
13/10/2026, 19.50 WIB

Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) mencatatkan penyaluran akses pembiayaan dan tabungan formal senilai Rp 584,3 miliar kepada 25.378 usaha mikro kecil menengah (UMKM), melatih lebih dari 2.300 wirausahawan, dan memperkuat digitalisasi enam Bank Perkreditan Rakyat(BPR) lewat Promise II Impact. 

Kesuksesan program ini mendorong diluncurkannya Promise to Impact fase ketiga untuk mempromosikan UKM melalui peningkatan akses wirausaha terhadap jasa keuangan. Momentum ini mempertegas komitmen berkelanjutan ILO dalam mendukung Pemerintah Indonesia untuk meningkatkan kesehatan finansial dan inklusi keuangan bagi para pelaku UMKM serta rantai pasok komoditas daerah.

Program yang mendapatkan dukungan Sekretariat Negara Swiss untuk Urusan Ekonomi (SECO) sejak Maret 2023 ini berpotensi memberi dampak positif bagi lebih dari 300 ribu UMKM.

"Yang terpenting bukan hanya berapa banyak orang yang memperoleh akses, tetapi perubahan perilaku dan ketahanan ekonomi yang mereka rasakan. Promise II Impact tidak berakhir di fase ini. Pembelajaran, capaian dan kemitraan yang sudah terbangun akan kami bawa ke fase berikutnya," ujar Djauhari Sitorus, Manajer Proyek Promise II Impact ILO, dalam konferensi pers, di Jakarta, Selasa (13/10).

Komoditas Susu Sapi, Minyak Nilam, dan Rumput Laut

Proyek Promise II Impact memadukan akses keuangan, peningkatan kapasitas dan pemanfaatan teknologi digital melalui pendekatan rantai nilai yang berfokus pada tiga komoditas prioritas: susu sapi perah, minyak nilam, dan rumput laut.  

Di sektor susu sapi perah, proyek ini bekerja sama dengan Koperasi Peternakan Bandung Selatan (KPBS) Pangalengan di Jawa Barat. Melalui penerapan sistem Enterprise Resource Planning (ERP) sebanyak 2.054 peternak telah terintegrasi, sekaligus didukung dengan penyaluran pembiayaan yang mencapai Rp11,6 miliar. 

Untuk komoditas minyak nilam di Aceh, program ini memanfaatkan platform MyNilam yang menghubungkan petani, pemerintah daerah, pusat riset, pengolah, lembaga keuangan dan pasar. Kolaborasi ini mendorong ekspor 32 ton minyak nilam senilai Rp30 miliar ke pasar global, termasuk Prancis, serta menumbuhkan 15-20 merek parfum lokal. 

Di sektor rumput laut di Nusa Tenggara Timur (NTT), program ini telah menghubungkan 216 petani rumput laut dan 57 pengepul melalui sistem ERP. Dari jumlah tersebut, 24 petani telah berhasil mengakses pembiayaan formal dari Bank NTT, membuka kesempatan mereka untuk memperkuat dan mengembangkan usaha. 

Promise II Impact Dorong Inklusi Keuangan

Dicky Kartikoyono, Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK, sekaligus Anggota Dewan Komisioner OJK, menyampaikan apresiasi atas kontribusi nyata proyek ini dalam memperluas akses keuangan dan memperkuat kapasitas UMKM. Menurutnya, capaian dan pembelajaran dari proyek tersebut menjadi modal penting untuk mendorong inklusi keuangan yang semakin berkualitas dan berdampak bagi masyarakat.

“Inklusi keuangan bukan sekadar memperluas akses, tetapi harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Pengalaman dan pembelajaran dari Promise II Impact menjadi masukan berharga bagi OJK dalam memperkuat kebijakan dan kolaborasi ke depan, sehingga akses keuangan dapat semakin mendorong produktivitas UMKM, ketahanan keuangan pekerja, dan kesejahteraan masyarakat,” ujar Dicky.

Harapan agar dampak tersebut dapat diperluas juga disampaikan Ali Murtopo, Deputi Bidang Koordinasi Perdagangan dan Ekonomi Digital, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Ia berharap Promise II Impact dapat terus dilanjutkan dengan skala yang lebih luas. 

Menurutnya, model dukungan yang telah diterapkan di Aceh, Jawa Barat dan NTT dapat menjadi contoh bagi Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) untuk direplikasi di daerah lain.

Komitmen untuk memperluas dampak tersebut akan dilanjutkan melalui fase ketiga. ILO bersama para pemangku kepentingan akan memperluas pendekatan rantai nilai ke komoditas baru, yaitu kopi di Lampung, sekaligus memperluas intervensi pada komoditas nilam di Sumatra Selatan dan susu sapi perah di Jawa Timur. Fase ini juga akan mereplikasi sistem ERP serta memperkuat infrastruktur digital BPR di berbagai wilayah Indonesia. 

Fase Ketiga akan Integrasikan Prinsip Kesehatan Finansial

Lebih dari sekadar memperluas jangkauan, fase baru ini juga akan mengintegrasikan prinsip kesehatan finansial sebagai bagian dari upaya membangun ketahanan ekonomi, mendukung pekerjaan layak dan mewujudkan penghidupan yang berkelanjutan. “Sejalan dengan fokus pemerintah yang kini mulai bergeser ke penguatan kesehatan finansial, kami berkomitmen membantu Pemerintah Indonesia memajukan agenda tersebut melalui Promise II Impact fase ketiga,” ucap Djauhari.

Untuk melanjutkan kolaborasi tersebut, ILO bersama Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dan OJK akan menggelar Financial Health Pathways Forum pada Kamis, 15 Oktober 2026. 

Forum yang digelar dalam rangka Bulan Inklusi Keuangan ini akan mempertemukan para pemangku kepentingan dan masyarakat untuk membangun pemahaman bersama mengenai kesehatan finansial dan kaitannya dengan pekerjaan layak. Forum ini juga diharapkan dapat menghasilkan langkah-langkah konkret untuk memperkuat ketahanan finansial pekerja, rumah tangga dan pelaku usaha di seluruh Indonesia. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.