PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) mencatatkan pendapatan sebelum beban bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi disesuaikan atau EBITDA di level negatif Rp 5,04 triliun pada kuartal III 2022. Nilai negatif EBITDA Bukalapak membengkak dari -Rp 391 miliar pada kuartal III 2021.

Kendati demikian, kerugian perusahaan terselamatkan oleh komponen laba investasi saham Allo Bank yang tak terealisasi sebesar Rp 4,66 triliun.

Dengan demikian, EBITDA disesuaikan atau adjusted EBITDA yang tercatat pada kuartal III 2022 hanya -Rp 327 miliar. Berdasarkan data presentasi perusahaan, kerugian perusahaan menyusut dari adjusted EBITDA pada periode yang sama tahun lalu, -Rp 355 miliar.

"Rasio adjusted EBITDA terhadap TPV (nilai pemrosesan total) menunjukkan peningkatan (kinerja) dari -1,14% pada kuartal III 2021, menjadi 0,79% pada kuartal III 2022," ujar Sekretaris Perusahaan Bukalapak, Teddy Oetomo dalam keterangan tertulis, Senin (31/10).

Jika diamati dalam perhitungan sembilan bulan pertama tahun ini, EBITDA Bukalapak per September 2022 tercatat Rp 3,61 triliun. Nilai itu jauh berbeda dari kinerja EBITDA sampai September 2021 yang mencetak minus Rp 1,08 triliun.

Kendati demikian, adjusted EBITDA per September 2022 berbalik minus Rp 1,05 triliun. Tak jauh berbeda dengan adjusted EBITDA sampai September 2021 yang -Rp 1,01 triliun. Dalam hal ini, rasio adjusted EBITDA terhadap TPV membaik dari -1,16% menjadi -0,95%.

Meskipun perseroan telah mencatat laba bersih Rp 3,62 triliun per September 2022, menurut Teddy, Bukalapak tetap memiliki fokus pada kinerja operasional. "Oleh karena itu, manajemen tetap menggunakan adjusted EBITDA sebagai indikator kinerja perseroan," ujarnya.

Berdasarkan keterangan tertulis, Bukalapak mencatatkan nilai pemrosesan total atau Total Processing Value (TPV) pada kuartal III 2022 sebesar Rp 41,3 triliun, atau tumbuh 32% dari periode yang sama tahun sebelumnya.

"Sebanyak 74% TPV perseroan berasal dari luar daerah Tier 1 di Indonesia, di mana penetrasi seluruh pasar, dan tren digitalisasi warung, serta toko ritel tradisional menunjukan pertumbuhan yang kuat," ujar Sekretaris Perusahaan Bukalapak Teddy Oetomo dalam keterangan tertulis, Senin (31/10).

Secara rinci, TPV Mitra bertambah 23% menjadi Rp 19,7 triliun pada kuartal III 2022, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, pada sembilan bulan pertama tahun ini, nilainya tumbuh 37% menjadi Rp 54,7 triliun dari periode yang sama pada tahun lalu.

Dari sisi kuantitas, jumlah mitra yang telah terdaftar mencapai 15,2 juta pada akhir September 2022, meningkat dari 11,8 juta pada akhir Desember 2021.

Pendapatan Bukalapak tumbuh 86% menjadi Rp 898 miliar pada kuartal III 2022, dari periode yang sama tahun sebelumnya, sementara pendapatan Bukalapak pada sembilan bulan pertama tahun ini meningkat 92% menjadi Rp 2,58 triliun.

Rinciannya, pendapatan mitra pada kuartal III 2022 meningkat 131% menjadi Rp 477 miliar, sedangkan dalam sembilan bulan pertama tahun ini tumbuh 191% menjadi Rp 1,44 triliun. Kontribusi mitra Bukalapak terhadap pendapatan perusahaan menunjukkan peningkatan dari 43% pada kuartal III 2021 menjadi 53% pada kuartal ketiga tahun ini.

Kendati demikian, beban pokok pendapatan tercatat ikut melonjak hampir sembilan kali lipat menjadi Rp 1,81 triliun dari sebelumnya hanya Rp 208,43 miliar. Beban umum dan administrasi juga membengkak menjadi Rp 1,87 triliun, dari Rp 1,02 triliun.

Hanya beban penjualan dan pemasaran yang menyusut menjadi Rp 819,02 miliar dari sebelumnya Rp 1,31 triliun. Perusahaan juga meraup pendapatan dari operasional lain Rp 316,37 miliar, dari semula menanggung beban operasional lainnya Rp 10,96 miliar. Alhasil, perusahaan mengantongi laba usaha Rp 3,53 triliun, dari sebelumnya mengalami rugi usaha Rp 1,21 triliun.

Terkait efisiensi beban penjualan dan pemasaran, Teddy menjelaskan, perusahaan memang berfokus untuk menghasilkan pendapatan dengan biaya yang lebih rendah. Alhasil, untuk pertama kalinya Bukalapak mencatat margin kontribusi terhadap TPV yang positif, yakni 0,1% dari periode yang sama -0,1%.

Adapun, margin kontribusi merupakan margin yang dihitung sebagai laba kotor dikurangi beban penjualan dan pemasaran terhadap TPV.

"Ini membuktikan bisnis tidak hanya bergantung pada pengeluaran, promosi, dan subsidi untuk menghasilkan pertumbuhan," kata Teddy. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.