Empat Faktor Ini Membuat Saham SMGR dan INTP Masih Sangat Menarik
PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai dua saham emiten semen yakni PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) dan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) masih sangat menarik. Hal ini seiring positifnya industri infrastruktur.
Research Analyst Mirae Asset Emma Almira Fauni mengatakan, ada empat faktor yang dapat mendukung bahwa prospek industri semen akan lebih baik pada tahun ini dibanding tahun lalu.
Faktor tersebut adalah normalisasi harga energi dan kompetisi yang semakin kondusif setelah konsolidasi industri, lalu rampungnya akuisisi PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SMCB) dan PT Semen Baturaja Tbk (SMBR) oleh SMGR. Serta perjanjian sewa dan penggunaan aset Semen Bosowa oleh INTP.
Dia mengatakan, dua faktor lain adalah utilisasi pabrik yang sudah sangat rendah sehingga kemungkinan akan membaik. Kemudian potensi pemangkasan suku bunga acuan dapat mendorong permintaan properti oleh publik.
Tahun ini, Emma memprediksi pertumbuhan kinerja penjualan semen akan tetap tumbuh meskipun tidak besar yakni single digit di kisaran 0%-5%, dibanding tahun lalu yang turun hingga 3%.
“Pertumbuhan penjualan semen itu ditambah masih menjanjikannya konsumsi rumah tangga nasional, diprediksi akan turut menopang ketahanan perekonomian nasional,” katanya dalam Media Day: June 2023, Kamis (8/6).
Emma mengatakan, kinerja dua produsen semen raksasa yang tercatat di bursa yaitu SMGR dan INTP menunjukkan kinerja positif sejak awal tahun, terutama untuk periode kuartal pertama 2023.
Meskipun secara tren mengalami penurunan dibandingkan kuartal sebelumnya, kinerja kuartal pertama 2023 kedua produsen semen itu menunjukkan pertumbuhan signifikan dibanding kuartal yang sama tahun lalu.
Hal itu bisa dilihat dari dua sisi. Pertama, SMGR unggul dibanding INTP karena penurunan kinerja kuartal pertama 2023 secara kuartalan SMGR lebih terkendali daripada INTP, sehingga tekanan harga di pasar untuk SMGR dapat lebih melunak.
Kedua, INTP mampu memperbesar pangsa pasarnya di luar Jawa. Serta dapat lebih diuntungkan karena dua faktor tahun ini, yaitu penurunan harga batu bara dan ekspansi porsi domestic market obligation INTP.
Harga saham perusahaan-perusahaan di pasar, seperti halnya produsen semen masih tertekan. Saat ini, harga INTP masih berada di kisaran Rp 5.500-5.900 atau minus 2% secara year to date dan SMGR di kisaran Rp 9.500-10.000 atau minus 11% year to date.
Dia juga optimistis saham semen masih sangat menarik untuk investor asing, mengingat kinerja keuangannya memiliki profitabilitas tinggi di mana marjin laba kotor 30%, dibanding industri semen global terutama Cina dan negara Asia lain yang hanya 15%.
Kinerja itu, menurut Emma, berbalik dari valuasi harga sahamnya di pasar di mana valuasi produsen semen lokal masih lebih murah dengan 20x PE ratio dibanding negara Asia lain yang sudah mencapai 35x PE ratio.
Industri Semen
Senior Economist Mirae Asset Rully Arya Wisnubroto mengatakan bahwa industri semen menarik sejalan dengan langkah pemerintah yang menaikkan anggaran untuk pembangunan infrastruktur pada tahun ini menjadi Rp 392 triliun. Anggaran itu akan difokuskan untuk pelayanan dasar, seperti pembangunan rumah, sekolah, hingga penyediaan air minum, serta konektivitas termasuk jalan dan jalan tol.
“Namun realisasi belanja infrastruktur baru Rp 59,7 triliun hingga April atau baru setara 15,2% dari total anggaran 2023. Realisasi belanja infrastruktur perlu dipercepat untuk mendukung peningkatan pertumbuhan ekonomi, baik dalam jangka pendek dan jangka panjang. Dengan akselerasi pembangunan infrastruktur, tingkat permintaan semen juga akan mengalami kenaikan,” ujar Rully.
Perekonomian Indonesia, lanjutnya, secara konsisten mencatatkan mencatatkan kinerja yang lebih baik dari ekspektasi dalam kurun waktu lima kuartal terakhir, yang didukung oleh konsumsi rumah tangga sejalan dengan efektivitas penanganan pandemi Covid 19.
Namun dengan tingginya ketidakpastian global, menurunnya harga-harga komoditas, serta dampak lanjutan dari pengetatan moneter, maka terdapat potensi terjadi perlambatan dalam beberapa kuartal ke depan.
Rully mengatakan bahwa akselerasi pembangunan infrastruktur diharapkan akan menopang perekonomian dari kemungkinan terjadinya perlambatan. Sampai saat ini kebijakan fiskal masih tetap difokuskan untuk menjaga momentum pemulihan ekonomi.
Sementara itu kebijakan moneter masih tetap difokuskan untuk menjaga stabilitas ekonomi, termasuk inflasi dan volatilitas nilai tukar.