WIKA Sepakat Restrukturisasi Utang dengan 11 Kreditur Rp 24,2 Triliun

ARIEF KAMALUDDIN | KATADATA
PT Wijaya Karya Tbk (WIKA)
24/1/2024, 11.35 WIB

Emiten konstruksi BUMN, PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) dan 11 lembaga keuangan menyepakati perjanjian restrukturisasi induk atau Master Restructuring Agreement (MRA) dengan nilai outstanding Rp 24,20 triliun. Jumlah itu setara dengan 87,1% dari utang yang direstrukturisasi per posisi 23 Januari 2024.

Direktur Utama WIKA, Agung Budi Waskito, menyampaikan tercapainya kesepakatan tersebut menjadi satu peningkatan proses restrukturisasi keuangan sekaligus mengakselerasi laju penyehatan perseroan.

"Kesepakatan ini menunjukan bahwa upaya penyehatan WIKA mendapatkan dukungan sepenuhnya dari Kementerian BUMN serta para lembaga keuangan yang bekerja sama dengan WIKA," kata Agung, dalam keterangan resminya, Rabu (24/1).

Dengan tercapainya MRA, WIKA akan fokus melanjutkan metode penyehatan lain untuk menciptakan fundamental yang kuat dan menjalankan bisnis secara berkelanjutan. Selain itu, WIKA akan berfokus aktivitas operasi sekaligus menuntaskan proyek-proyek strategis yang telah ditugaskan kepada perseroan.

Agung BW menjelaskan metode penguatan struktur permodalan telah mendapatkan dukungan dari pemerintah melalui Peraturan Presiden RI No 76 Tahun 2023. Peraturan Presiden itu tentang Rincian APBN Tahun Anggaran 2024 dan persetujuan Penambahan Modal dengan memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu atau rights issue (HMETD) lewat RUPSLB 12 Januari 2024.

Perseroan juga mengambil langkah perbaikan portofolio orderbook. Orderbook atau buku pesanan merupakan daftar pesanan pembelian dan penjualan untuk suatu aset, seperti saham atau cryptocurrency, yang disusun berdasarkan harga dan jumlah yang ditawarkan.

Adapun pada saat ini, 93% dari proyek yang dikerjakan WIKA telah menggunakan mekanisme monthly progress payment. Dalam catatan perusahaan, proyek dengan mekanisme tersebut hanya sebesar 40% dari total portfolio WIKA pada 2016.

Selain itu, metode percepatan penagihan piutang bermasalah juga telah membuahkan hasil dengan dibentuknya Divisi Asset Management yang bertanggung jawab langsung kepada Direksi dan terbukti telah menunjukan penurunan nilai piutang bermasalah sebesar 21% hingga September 2023 dibandingkan Desember 2022.

Agung BW menyampaikan bahwa realisasi program menunjukan jika metode penyehatan sebagai bagian dari transformasi yang tengah berlangsung dan optimis dalam dilaksanakan.

Reporter: Patricia Yashinta Desy Abigail