Vale (INCO) Kantongi Pinjaman Hijau hingga Rp17 Triliun untuk Proyek Nikel

Antara Foto/Nova Wahyudi
Sejumlah operator dump truck mengangkut slag atau limbah nikel untuk dibawa ke tempat penampungan khusus Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) di area smelter PT Vale Indonesia Tbk di Sorowako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan.
23/4/2026, 20.43 WIB

PT Vale Indonesia Tbk (INCO) memperoleh fasilitas Sustainability-Linked Loan (SLL) sebesar US$ 750 juta, dengan opsi tambahan (greenshoe) US$ 250 juta, sehingga total potensi pendanaan mencapai US$ 1 miliar atau sekitar Rp 17,29 triliun.

Fasilitas pinjaman sindikasi ini merupakan yang pertama bagi INCO untuk mendukung pengembangan proyek strategis. Manajemen Vale mengatakan pendanaan ini didukung oleh sindikasi 14 bank internasional dan mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed) hingga 1,7 kali.

Nantinya fasilitas ini untuk mendukung pengembangan proyek strategis perusahaan. Pada 2026, sekitar 50% dana akan dialokasikan untuk pengembangan proyek IGP Pomalaa, sekitar 30% untuk proyek Indonesia Growth Project (IGP) Morowali, dan sekitar 20% untuk pengembangan IGP Sorowako Limonite. 

Sementara pada 2027 mendatang, pendanaan akan fokus pada kelanjutan proyek-proyek tersebut serta pemenuhan hak partisipasi dalam proyek joint venture.

Presiden Direktur dan CEO Vale, Bernardus Irmanto, menyampaikan bahwa fasilitas ini mencerminkan komitmen perusahaan dalam mengintegrasikan aspek keberlanjutan ke dalam pengambilan keputusan strategis. 

“Kami berkomitmen untuk terus menghadirkan nikel berkualitas tinggi dengan jejak karbon yang lebih rendah, sekaligus mendukung pengembangan industri hilirisasi nasional dan transisi energi global,” ucap Bernadus dalam keterangannya, Kamis (23/4).

Seiring dengan percepatan elektrifikasi dan pengembangan energi terbarukan, Bernadus menyebut permintaan terhadap nikel sebagai komponen utama baterai kendaraan listrik (EV) dan penyimpanan energi terus meningkat. 

Berdasarkan proyeksi International Energy Agency, kapasitas penyimpanan baterai global diperkirakan perlu meningkat hingga 14 kali lipat. Sementara permintaan baterai EV diproyeksikan meningkat 7 kali lipat hingga tahun 2030.

Saat ini, Vale Indonesia berada pada posisi strategis sebagai produsen nikel dengan intensitas karbon yang relatif rendah. Hal ini didukung oleh pemanfaatan energi terbarukan melalui tiga pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang terintegrasi dalam operasionalnya. Vale juga terus meningkatkan kapasitas dan keandalan infrastruktur PLTA untuk mendukung proses elektrifikasi operasional secara bertahap.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nur Hana Putri Nabila