INA: Butuh Investasi Rp 14.369 Triliun untuk Kejar Pertumbuhan Ekonomi 8%
Lembaga pengelola kekayaan negara atau sovereign wealth fund (SWF) RI, Indonesia Investment Authority (INA), menyebut republik ini membutuhkan investasi hingga US$ 800 miliar atau sekitar Rp 14.369 triliun (asumsi kurs Rp 17.962 per dolar AS) demi mengejar target pertumbuhan ekonomi 8%.
Chief Executive Officer (CEO) INA, Oki Ramadhana mengatakan, target pertumbuhan ekonomi sebesar 8% membutuhkan investasi yang sangat besar. Menurutnya, kebutuhan investasi tersebut tidak cukup dipenuhi dengan mengandalkan investor domestik.
“Penggerak utamanya tentu investasi global. Kalau hanya mengandalkan dana domestik, itu tidak cukup,” kata Oki dalam Media Briefing Laporan Tahunan INA, Rabu (1/7).
Dia menilai penanaman modal asing atau foreign direct investment (FDI) mutlak diperlukan demi mempercepat pertumbuhan ekonomi Indonesia. Menurutnya, investasi asing tidak sekadar menyediakan pendanaan, tetapi juga mendukung proyek-proyek berbasis teknologi, memperkuat kapabilitas industri, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan ekspor, hingga mempercepat pembangunan infrastruktur.
Ia juga mengatakan, fondasi ekonomi RI masih kuat untuk menarik investor asing. Hal itu didukung pertumbuhan ekonomi yang berada di atas rata-rata global dengan tingkat inflasi yang tetap terjaga.
Seiring dengan itu, Oki melihat fundamental ekonomi Indonesia kini bukan lagi menjadi persoalan bagi investor global. Apalagi Global Infrastructure Fund dalam dua tahun terakhir disebutnya telah menelaah sekitar 25 hingga 30 peluang investasi di Indonesia.
“Ini luar biasa sekali, global investors the way they actually look at Indonesia,” katanya.
Dana Kelolaan Investasi INA Tembus Rp 146 Triliun
Di sisi lain, INA membukukan pertumbuhan dana kelolaan atau asset under management (AUM) sebesar Rp 146,2 triliun pada 2025. Angka tersebut tumbuh 1,9 kali dibandingkan dengan tahun pertama operasional INA.
Dalam lima tahun, total investasi yang telah disalurkan INA bersama para mitranya mencapai Rp 74,5 triliun. Secara terperinci, kontribusi investasi yang berasal dari INA sebesar Rp 33,3 triliun, sedangkan mitra investasi menyumbang Rp 41,2 triliun.
Oki mengatakan, investasi tersebut paling banyak dialokasikan ke sektor transportasi dan logistik dengan porsi 44%. Selanjutnya, ada sektor digital dan kecerdasan buatan (AI) yang menyerap 29,6%, disusul energi hijau sebesar 9,8%, kesehatan 9,2%, advanced material 5,5%, dan sektor potensial lainnya sebesar 1,9%.
Sebagai SWF, INA berhasil mempertahankan peringkat internasional dari Fitch Ratings di posisi BBB. Sementara di tingkat nasional, peringkat investasi INA berada pada level AAA.
Apabila menilik kinerjanya, INA membukukan laba bersih tahun berjalan sebesar Rp 7,44 triliun sepanjang 2025. Torehan itu naik 37,30% secara tahunan atau year on year (YoY) dari Rp 5,42 triliun pada periode tahun sebelumnya.
Berdasarkan laporan keuangannya, pendapatan INA melonjak 43,01% YoY menjadi Rp 8,45 triliun, dari sebelumnya Rp 5,91 triliun pada 2024. Di sisi beban, beban investasi juga meningkat 26,89% YoY menjadi Rp 130,99 miliar dari Rp 103,23 miliar.