UNTR Bangun Smelter Usai Caplok Tambang Emas PSAB, Rampung 2029

website UNTR
Alat berat United Tractors (UNTR)
12/8/2026, 07.56 WIB

PT United Tractors Tbk (UNTR) tengah mempersiapkan pembangunan smelter usai akuisisi tambang emas Proyek Doup milik PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB). 

Pada awal 2026 ini, UNTR melalui anak usahanya, PT Danusa Tambang Nusantara (DTN) merampungkan akuisisi tambang emas di Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, Provinsi Sulawesi Utara. Aksi itu melalui pembelian saham PT Arafura Surya Alam (ASA) senilai US$ 540 juta atau sekitar Rp 8,85 triliun.

Direktur Human Capital & Sustainability United Tractors, Ari Sutrisno, mengatakan perseroan saat ini tengah mempersiapan eksplorasi dan pengembangan di Blok Doup, termasuk membangun smelter. Ia berharap pembangunan smelter tersebut dapat rampung dalam waktu sekitar tiga tahun.

“Termasuk persiapan untuk pembangunan smelternya, mudah-mudahan (target rampung) tahun 2029,” kata Ari ketika ditemui Katadata.co.id di Jakarta, dikutip Rabu (12/8). 

Blok Doup di Sulawesi Utara memiliki cadangan bijih terbukti dan terukur (Proven & Probable) sesuai standar JORC sebesar 1,57 juta ons emas. Sementara itu, sumber daya mineral terukur, terindikasi, dan tereka (Measured, Indicated & Inferred) mencapai 3,11 juta ons emas.

Di sisi lain, apabila menilik pundi-pundi segmen emas di kinerja UNTR, hingga semester pertama segmen pertambangan emas dan mineral lainnya membukukan pendapatan sebesar Rp 2,4 triliun pada semester I 2026, turun 66% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan itu terutama disebabkan oleh anjloknya penjualan emas sebesar 82%.

Sementara itu, bisnis pertambangan emas yang dijalankan melalui Agincourt Resources dan Sumbawa Juta Raya mencatat total penjualan emas setara 23 ribu ons hingga semester I 2026. Angka turun dari 125 ribu ons pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Hingga semester pertama 2026, UNTR membukukan pendapatan bersih sebesar Rp 58,3 triliun, turun 15% yoy dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 68,5 triliun. Manajemen menyebut penurunan itu terutama dipicu oleh lebih rendahnya penjualan emas dari PT Agincourt Resources. 

Kemudian, melemahnya kinerja segmen alat berat dan pertambangan batu bara termal maupun metalurgi akibat alokasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) Batu Bara Nasional 2026 yang lebih rendah.

Laba bersih yang tidak memperhitungkan pos non berulang (non-recurring items) turun 48% menjadi Rp 4,3 triliun. Penurunan itu terutama disebabkan oleh berkurangnya penjualan emas dari Tambang Emas Martabe yang sempat dihentikan operasionalnya. 

Manajemen juga mengatakan turunnya pendapatan akibat lebih rendahnya alokasi RKAB Batu Bara 2026. Perseroan menyebut operasional Tambang Emas Martabe telah kembali berjalan pada kuartal kedua 2026.

 
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nur Hana Putri Nabila