Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) cenderung stabil menjelang pengumuman Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) kuartal IV 2018. Meski sedikit melemah saat pembukaan perdagangan Jumat (8/2), namun rupiah mampu menguat hingga bertengger di posisi yang tak jauh berbeda dengan posisi penutupan sehari sebelumnya.

Saat berita ini ditulis, Jumat (8/2) siang, nilai tukar rupiah berada di posisi Rp 13.969 atau menguat tipis 0,03% dibandingkan penutupan hari sebelumnya. Di Asia, rupiah menguat bersama peso Filipina 0,31%, rupee India 0,2%, won Korea Selatan 0,11%, yen Jepang 0,09%, dolar Taiwan 0,06%, dolar Hong Kong 0,02%, dan dolar Singapura 0,01%.

(Baca: Gubernur BI Prediksi Neraca Pembayaran Kuartal IV Surplus US$ 5 Miliar)

Di sisi lain, baht Thailand, yuan Tiongkok, dan ringgit Malayasia terpantau melemah masing-masing 0,42%, 0,04%, dan 0,01%. Masih cenderung kuatnya mayoritas nilai tukar mata uang Asia juga seiring belum adanya perkembangan yang siginifikan di global yang memicu kembali berbaliknya dana asing ke aset finansial negara maju. 

Adapun Bank Indonesia (BI) akan mengumumkan NPI kuartal IV pada Jumat (8/2) sore. Sebelumnya, BI memperkirakan NPI bakal surplus sebesar US$ 5 miliar, meskipun defisit transaksi berjalan – neraca perdagangan internasional barang dan jasa -- diperkirakan masih besar yaitu mencapai US$ 8,8 miliar atau 3,3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

(Baca: Defisit Transaksi Berjalan Kuartal IV 2018 Bisa Melebihi Prediksi BI)

Menurut BI, surplus NPI ditopang oleh membesarnya surplus neraca modal dan finansial seiring derasnya arus masuk dana asing ke pasar keuangan domestik. Arus masuk tersebut terpantau masih berlanjut pada awal kuartal I 2019. Adapun NPI menunjukkan keseimbangan pasokan dan permintaan valuta asing (valas) di dalam negeri, serta ketahanan eksternal Indonesia. 

(Baca: Dana Asing Masuk Tembus Rp 40 Triliun, Tren Penguatan Rupiah Berlanjut)

Pada tiga kuartal sebelumnya, NPI tercatat mengalami defisit berturut-turut sebesar US$ 3,9 miliar (kuartal I), US$ 4,3 miliar (kuartal II), dan US$ 4,4 miliar (kuartal III). Penyebabnya, melebarnya defisit transaksi berjalan di tengah mengecilnya surplus neraca modal dan finansial imbas arus keluar modal asing.