BI Siapkan Tiga Strategi Hadapi Pelemahan Rupiah
KATADATA ? Bank Indonesia (BI) menyiapkan tiga strategi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dalam jangka menengah. Upaya ini untuk menghadapi perkembangan ekonomi global seiring makin tidak pastinya rencana bank sentral Amerika Serikat (AS), the Fed, menaikkan suku bunga akibat devaluasi mata uang Cina.
Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Juda Agung mengatakan, ketiga strategi tersebut antara lain memperkuat pengelolaan likuiditas rupiah di pasar uang, memperkuat pengelolaan suplai dan permintaan valuta asing (valas), serta memperkuat kecukupan cadangan devisa. Sebelumnya BI pun telah memutuskan untuk mempertahankan tingkat suku bunga acuan.
?Fokus kami agar kurs rupiah tidak volatile dan tidak menambah ekspektasi jadi berlebihan. Kalau hanya intervensi mungkin terlalu besar (dananya), maka kami gunakan bauran,? kata Juda di kantornya, Jakarta, Kamis (20/8).
Dalam pandangan BI, kurs rupiah saat ini yang sudah tembus di angka Rp 13.800 per dolar AS sudah melemah cukup dalam karena nilainya sudah terlalu rendah dibandingkan nilai riilnya. Secara fundamental, perekonomian Indonesia seharusnya sudah membaik terlihat dari tingkat inflasi serta defisit neraca transaksi berjalan di bawah 2,5 persen.
Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Moneter BI Doddy Zulverdi menjelaskan, secara operasional bank sentral akan melakukan tujuh langkah untuk menjalankan strategi tersebut. Pertama, melakukan intervensi di pasar valas. Kedua, membeli surat berharga negara (SBN) di pasar sekunder dengan tetap memperhatikan dampaknya pada ketersediaan SBN dan likuiditas di pasar uang.
Ketiga, memperkuat pengelolaan likuiditas rupiah melalui operasi pasar terbuka (OPT) untuk mengalihkan likuiditas harian ke tenor yang lebih panjang. Caranya dengan mengubah mekanisme lelang reverse repoSBN dari variable rate menjadi fixed rate, menyesuaikan harga reverse repo SBN, dan memperpanjang tenor dengan menerbitkan reverse repo SBN 3 bulan.
Langkah serupa juga dilakukan pada Sertifikat Deposito BI (SDBI), dan menerbitkan SDBI bertenor 6 bulan. Juga menerbitkan kembali Sertifikat BI (SBI) bertenor 9 bulan dan 12 bulan. ?Tenor yang lebih panjang ini kami harapkan bisa mengurangi likuiditas bank yang ditempatkan di BI hanya semalam (overnight), karena dana itu lebih mudah digunakan untuk menukar uang,? tutur Doddy.
Keempat, menyesuaikan frekuensi lelang Foreign Exchange (FX) swap dari dua kali seminggu menjadi sekali seminggu. Doddy berharap bank bisa menjual dolarnya ke BI, sehingga bisa digunakan BI untuk menjaga stabilitas pasar. Kelima, mengubah mekanisme lelang Term Deposit (TD) valas dari variable rate tender menjadi fixed rate tender, menyesuaikan harga, dan memperpanjang tenor sampai tiga bulan.
Doddy menjelaskan, per 19 Agustus dana bank yang disimpan semalam (overnight) mencapai Rp 225 triliun atau 42 persen dari total dana yang ditempatkan di BI. Sedangkan untuk tenor 1-3 bulan kisaran 30 persen, dan enam bulan hanya 15 persen. Porsi untuk overnight inilah yang ingin dikurangi oleh BI. Sejak diberlakukan kemarin, penempatan valas dari bank di luar negeri ke BI mencapai US$ 10,5 miliar per 19 Agustus dari US$ 8,8 miliar pada 14 Agustus.
?Karena bank yang tempatkan dana di luar negeri kan biasanya ikuti LIBOR. Kami akan mengacu ke sana. Jadi pricing valas kami dekatkan dengan suku bunga di luar. Ini yang membuat menarik,? tutur Doddy.
Keenam, menurunkan batas pembelian valas dengan pembuktian dokumen penjaminan (underlying) dari yang berlaku saat ini US$ 100 ribu menjadi US$ 25 ribu per nasabah per bulan. Bahkan wajib menyertakan NPWP. Ketujuh, berkoordinasi dengan pemerintah dan bank sentral lainnya untuk memperkuat cadangan devisa.
Dari hasil pertemuan bank sentral Amerika Serikat (FOMC) kemarin, ada indikasi the Fed akan menunda kenaikan suku bunganya menjadi Desember 2015 atau Januari 2016 dari perkiraan semula pada September. Setidaknya The Fed tengah menanti dua indikator perbaikan ekonomi AS. Pertama, kenaikan angka inflasi ke level yang sesuai target yaitu 2 persen. Kedua, perbaikan pasar tenaga kerja. Pada Juli 2015, sebenarnya ada tambahan 215 ribu tenaga kerja dan lebih banyak dibandingkan periode sama 2014 yang sebesar 211 ribu. Namun, inflasi masih stagnan di angka 0.3 persen.
Tak cuma di dalam negeri, para pejabat The Fed juga mengkhawatirkan kondisi perlambatan ekonomi Cina yang bakal berimbas ke ekonomi global dan AS. Ini yang membuat dolar AS semakin menguat terhadap mata uang global, termasuk rupiah. Pada perdagangan hari ini, rupiah sempat menembus angka Rp 13.920 per dolar AS, sebelum akhirnya ditutup di posisi Rp 13.885 per dolar AS.