KATADATA ? Penurunan harga minyak dunia, belum mampu menurunkan beban subsidi bahan bakar minyak tahun ini. Sepanjang Juni hingga September, harga minyak mentah Indonesia (Indonesia crude price/ICP) sudah turun 12,9 persen. Meski demikian, subsidi BBM diperkirakan tetap akan kurang 2 persen hingga akhir tahun.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Demisioner) Susilo Siswoutomo mengatakan subsidi BBM tetap tinggi, meski harga minyak dunia turun. Dengan harga minyak US$ 80 dolar per barel, dan harga ICP di kisaran US$ 90-95 per barel, harga BBM tetap saja dikisaran Rp 11.000 per liter.
"Jadi kalau harga minyak keekonomiannya Rp 11.000, kemudian dikurangi harga yang dijual Rp 5.500. Jadi yang disubsidi Rp Rp 5.500," ujarnya di Jakarta, Selasa (21/10).
Menurut dia, dengan susbidi yang mencapai setengah dari harga keekonomian, subsidi BBM akan sulit berkurang meski harga minyak melemah. Selain itu, penurunan harga minyak baru bisa dirasakan pada 2-3 bulan ke depan. Sebab, untuk pengolahan minyak yang saat ini dikilang merupakan pembelian minyak 3 bulan sebelumnya, dengan harga yang berlaku saat itu. (Baca: Defisit Tetap Tinggi Meski Harga Minyak Dunia Turun)
Sehingga, meskipun bulan lalu harga minyak turun hingga mencapai US$ 80 per barel, dampaknya akan dirasakan pada November atau Desember. Makanya pilihannya hanya satu, yakni mengurangi subsidi BBM dengan cara menaikkan harga.
Susilo mengatakan, dari kuota BBM bersubsidi tahun ini sebesar 46 juta kiloliter, kenaikan harga sebesar Rp 2.000 per liter saja, bisa menghemat anggaran Rp 92 triliun. Jika kenaikanya mencapai Rp 3.000 per liter, maka penghematanya bisa mencapai Rp 150 triliun.
"Jadi pengurangan subsidi BBM akan efektif kalau disparitas harga ini diperkecil, ini juga menyebabkan penyelundupan berkurang," tuturnya.
dia memastikan, kuota 46 juta KL hingga akhir tahun itu pasti akan jebol, realisasi penggunaan BBM subsidi hingga 30 September diperkirakan hingga akhir tahun kuota jebol 1 juta kilo liter.
Berdasarkan data PT Pertamina (Persero), realisasi penyaluran BBM bersubsidi hingga kuartal III-2014 mencapai 34,9 juta kiloliter, atau 75,9 persen dari kuota tahun ini. Angka tersebut naik 1,7 persen dibandingkan realisasi penyaluran pada periode yang sama pada 2013.
"Jadi memang harus direm (penggunaan subsidi BBM ini), kelebihan kuota 2 persen itu siapa yang mau bayar," kata Susilo.