Rupiah Perkasa ke 14.280/US$ Ditopang Membaiknya Data Konsumsi Global
Nilai tukar rupiah dibuka menguat 0,06% ke level Rp 14.290 per dolar AS pada perdagangan di pasar spot pagi ini. Rupiah berpotensi menguat hingga ke level Rp 14.250 per dolar AS terdorong rilis sejumlah data yang menunjukkan konsumsi global yang semakin kuat.
Mengutip Bloomberg, rupiah bergerak ke Rp 14.276 pada pukul 09.40 WIB, semakin menguat dari posisi penutupan kemarin di Rp 14.299 per dolar AS.
Mayoritas mata uang Asia lainnya juga bergerak menguat terhadap dolar AS. Dolar Singapura menguat 0,1% bersama won Korea Selatan 0,33%, peso Filipina 0,15%, rupee India 0,36%, yuan Cina 0,06%, ringgit Malaysia 0,12% dan bath Thailand 0,31%. Sementara pelemahan dialami yen Jepang 0,15% bersama dolar Hong Kong 0,02% dan dolar Taiwan 0,11%.
Analis pasar uang Ariston Tjendra memperkirakan rupiah akan menguat ke arah Rp 14.270-14.250 per dolar AS, dengan potensi pelemahan di Rp 14.320 per dolar AS. Penguatan hari ini terutama ditopang membaiknya konsumsi di beberapa negara sehingga mendorong ekspektasi terhadap perekonomian global yang semakin baik.
"Pasar mungkin melihat perbaikan data ekonomi terutama di sektor konsumsi. Data penjualan ritel beberapa negara membaik," kata Ariston kepada Katadata.co.id, Selasa (11/1).
Penjualan retail di Australia pada November melonjak 7,3% secara tahunan, kenaikan dari bulan sebelumnya 4,9%. Peningkatan konsumsi juga terjadi di Inggris, dengan pertumbuhan penjualan retail di akhir Desember atau keseluruhan tahun 2021 hingga 9,9% dibandingkan 2020 dan 6,6% dari 2019 atau pre-pandemi.
"Ini juga ditunjukkan oleh tingkat keyakinan konsumen Indonesia bulan Desember yang terlihat masih stabil, ini mengindikasikan tingkat konsumsi juga stabil," kata Ariston.
Bank Indonesia juga melaporkan optimisme konsumen terhadap kondisi ekonomi tetap kuat sekalipun menurun pada Desember. Hal ini terlihat dari dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada bulan lalu sebesar 118,3 poin, turun tipis dari 118,5 poin pada bulan sebelumnya yang merupakan rekor tertinggi sepanjang pandemi
Terjaganya optimisme konsumen ditopang persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini yang terindikasi meningkat. Optimisme konsumen terhadap kondisi ekonomi enam bulan mendatang juga masih terjaga tinggi sekalipun turun.
Selain didorong membaiknya data konsumsi, Ariston juga mengatakan, kekhawatiran terhadap Omicron berangsur mereda. Menurut dia, pasar tampaknya mulai melihat varian Omicron bukan sebagai ancaman terhadap pemulihan ekonomi karena dampaknya yang ringan terhadap penderita.
Sementara itu, analis pasar uang Bank Mandiri Rully Arya Wisnubroto memperkirakan rupiah kemungkinan bergerak melemah ke kisaran Rp 14.368 per dolar AS, dengan potensi penguatan di Rp 14.283 per dolar AS. Pergerakan rupiah hari ini masih sangat dipengaruhi oleh kondisi global.
"Paling dominan terutama pasar masih memperhatikan kemungkinan kenaikan bunga acuan The Fed," kata Rully kepada Katadata.co.id
The Fed dalam risalah rapat pembuat kebijakan edisi Desember yang dirilis pekan lalu menunjukkan kemungkinan kenaikan bunga acuan tiga kali tahun ini. Namun dengan perkembangan yang ada, Goldman Sachs memperkirakan bunga acuan bisa naik sampai empat kali tahun ini.
Perkiraan ini sejalan dengan ekspektasi pasar sebagaimana terpantau melalui alat FedWatch CME. Sekitar 80% investor memperkirakan kenaikan suku bunga acuan pertama akan dimulai Maret, tepat setelah quantitative easing berakhir. Selain itu, sekitar 50% pasar memperkirakan kenaikan bunga acuan yang keempat akan dilakukan di Desember.