BI Janji Cadangan Devisa Tak Turun Lagi, Rupiah Dibiarkan Melemah?

ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/foc.
Ilustrasi. BI mencatat rata-rata nilai tukar rupiah pada kuartal ketiga secara tahun kalender sebesar Rp 14.935 per dolar AS.
Penulis: Abdul Azis Said
Editor: Agustiyanti
21/11/2022, 16.26 WIB

Bank Indonesia akan mengupayakan agar cadangan devisa tidak turun lebih dalam lagi setelah banyak terkuras untuk menjaga stabilitas rupiah. Salah satu upaya BI menjaga ketersediaan cadangan devisa adalah dengan mendorong agar para eksportir mempertahankan devisanya di dalam negeri.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengakui bank sentral sudah mati-matian menstabilkan nilai tukar rupiah. Intervensi itu yang kemudian menjadi penyebab cadangan devisa Indonesia turun sekitar US$ 10 miliar sejak awal tahun ini hingga Oktober 2022.

"Kami akan jaga tidak turun lagi, kami terus memutar otak bagaimana menjaga supaya para eksportir bisa kemudian bertahan lebih lama di dalam negeri. Kemarin kami sudah bertemu dan berdiskusi dengan perbankan dan para eksportir," kata Perry dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI, Senin (21/11).

BI akan menggunakan mekanisme suku bunga untuk menarik minat para eksportir memarkirkan dananya di dalam negeri. Upaya lainnya dengan mekanisme pasar, menurut Perry, saat ini sudah berjalan antara eksportir dan perbankan.

Ia menjelaskan, posisi cadangan devisa yang terus menipis disebabkan upaya untuk menjaga stabilitas rupiah. Hingga 16 November, rupiah baru terdepresiasi sebesar 8,6%. Pelemahan tersebut lebih kecil dibandingkan penguatan dolar AS terhadap mata uang utama dunia lainnya maupun depresiasi mata uang negara lainnya terhadap dolar AS. 

Meski demikian, Perry memastikan pekerjaan BI tidak hanya berhenti sampai disitu saja. Ia memastikan akan terus  'mati-matian' menjaga stabilitas rupiah. Hal ini untuk meminimalisasi terjadinya imported inflation, menjaga stabilitas moneter, stabilitas sistem keuangan dan menjaga agar kondisi korporasi tetap baik.

BI mencatat rata-rata nilai tukar rupiah pada kuartal ketiga secara tahun kalender sebesar Rp 14.935 per dolar AS. Dalam asumsi Rencana Anggaran Tahunan BI 2023, nilai tukar rupiah rata-rata tahun depan ditargetkan Rp 15.070 per dolar AS.

"Sekarang di rata-rata Rp 15.500-Rp 15.600 dan dunia masih bergejolak. Kami mencoba ke titik tengah yang pernah kami sampaikan dulu antara Rp 14.800-Rp 15.200, titik tengahnya (Rp 15.000) supaya kami juga konsisten. Tapi itu butuh extra effort dari kami melalui intervensi pakai cadangan devisa dan tentunya berpengaruh ke anggaran," kata Perry.

Reporter: Abdul Azis Said