Rupiah Sentuh Rekor Terlemah dalam 3 Bulan, BI Pastikan Siaga di Pasar
Rupiah melanjutkan tren pelemahan dengan terkoreksi cukup dalam 0,58% sepanjang hari ini, menandai level terlemahnya selama lebih dari tiga bulan terakhir. Bank Indonesia atau BI memastikan akan terus berjaga di tengah tren pelemahan tersebut.
"Tentu kami selalu di pasar untuk memastikan supply demand valuta asing (valas) tidak timpang," kata Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI Edi Susianti kepada katadata.co.id, Jumat (7/7).
Operasi moneter bank sentral dilakukan melalui triple intervention alias intervensi tiga lapis. Intervensi tersebut dilakukan melalui Domestik non-Delivery Forward (DNDF), pasar spot dan pasar Surat Berharga Negara (SBN).
BI juga akan menggunakan 'senjata' lainnya yakni operasi twist. Melalui intervensi ini, BI akan menjual SBN tenor pendek agar imbal hasilnya naik dan lebih menarik bagi investor. Di sisi lain bank sentral akan masuk ke SBN tenor panjang.
"Prinsipnya, kami utamakan mekanisme pasar. Kami masuk pasar kalau keseimbangan supply-demand valas timpang," kata dia.
Data Bloomberg menunjukkan rupiah parkir di level 15.143 per dolar AS pada penutupan perdagangan sore ini. Sementara kurs garuda terkoreksi 0,58% jika dibandingkan penutupan kemarin sore. Ini sekaligus menandai rekor terlemah rupiah selama lebih dari tiga bulan terakhir.
Rupiah melemah beberapa pekan terakhir terutama setelah pertemuan komite pembuat kebijakan bank sentral AS, The Fed bulan lalu memberi sinyal hawkish soal suku bunga. Padahal, mereka saat itu juga memutuskan mengambil jeda kenaikan. Mayoritas dari anggota komite melihat perlu menaikkan suku bunga dua kali lagi di sisa tahun ini untuk membawa inflasi mencapai target.
Ekspektasi berlanjutnya kenaikan suku bunga The Fed makin diperkuat rilis beberapa data ekonomi AS yang menunjukkan perbaikan. Data yang positif ini mengindikasikan ekonomi AS masih resilien sekalipun sudah digempur kenaikan suku bunga acuan 10 kali beruntun sejak tahun lalu.
Data terbaru yang rilis semalam menunjukkan jumlah tenaga kerja sektor swasta di AS naik dua kali lipat dari yang diperkirakan pasar pada bulan Juni. Selain itu, kinerja sektor jasa, tercermin dari indeks PMI non-manufaktur, secara mengejutkan juga meningkat jauh di atas perkiraan.
"Data ekonomi AS yang membaik ini mendukung ekspektasi kebijakan suku bunga tinggi Bank Sentral AS, The Fed sehingga mendukung penguatan dolar AS terhadap nilai tukar lainnya," kata Analis PT Sinarmas Futures Ariston dalam catatannya pagi ini.
Perkiraan Rupiah
Senior Ekonom DBS Bank Radhika Rao memperkirakan rupiah masih akan melemah dalam jangka pendek. Namun, pelemahan rupiah disebabkan oleh penguatan dolar AS dengan sentimen hawkish dari The Fed. Ia memperkirakan rupiah berada di kisaran 15.200 per dolar AS pada kuartal ini.
Ia menyebut, dolar menangguk untung dari sinyal hawkish The Fed. Hal ini karena perekonomian AS menunjukkan performa masih cukup baik jika dibandingkan dengan kawasan Eropa yang juga mengerek suku bunga agresif.
Radhika melihat peluang penguatan rupiah menjelang akhir tahun namun tidak akan signifikan. Pasalnya, jika The Fed benar merealisasikan kenaikan dua kali suku bunga acuannya, maka suku bunga acuan di AS dan Indonesia akan berada pada level yang sama di 5,75%.
"Kami perkirakan rupiah akan menguat sedikit, tetapi karena konvergensi pada suku bunga ini terjadi, kami memperkirakan apresiasi rupiah ini tidak akan begitu kuat, hanya apresiasi sederhana pada akhir tahun," kata dia.
Perkiraannya, rupiah hanya bisa kembali ke level 15.000 per dolar AS pada akhir tahun, alih-alih kembali ke level seperti beberapa bulan lalu di bawah 15.000 atau bahkan menyentuh 14.500.