Perang Dagang, Cina Tak Bisa Lagi Gunakan Pelemahan Yuan untuk Lawan Tarif Trump

Vecteezy.com/wirojsid675830
Pelemahan yuan memicu spekulasi bahwa Beijing akan membiarkan mata uangnya melemah lebih lanjut untuk meredam dampak tarif Presiden AS Donald Trump.
Penulis: Agustiyanti
11/4/2025, 14.20 WIB

Para analis pasar memperkirakan, Cina tidak akan lagi dapat menggunakan devaluasi atau pelemahan yuan sebagai senjata dalam perang dagang dengan Amerika Serikat seperti ketika periode pertama Trump. Ini karena pelemahan yuan dapat memicu ketidakstabilan di pasar uang. 

Yuan di pasar luar negeri diperdagangkan melemah ke rekor terendah 7,4287 terhadap dolar AS pada awal minggu ini setelah Bank Rakyat Tiongkok menetapkan nilai tukar titik tengahnya pada level terlemah sejak 2023. Kurs yuan di pasar dalam negeri pada Kamis (10/4) juga melemah ke 7,3509 terhadap dolar AS, level terendah sejak 2007, data dari LSEG menunjukkan.

Pelemahan yuan memicu spekulasi bahwa Beijing akan membiarkan mata uangnya melemah lebih lanjut untuk meredam dampak tarif Presiden AS Donald Trump. Namun, para analis memperingatkan, pelemahan yuan yang signifikan dapat menimbulkan efek berantai, termasuk memicu arus keluar modal, sesuatu yang ingin dihindari oleh para pembuat kebijakan di negara itu.

Kurs yuan saat ini juga perlahan mulai menguat, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Di antara 11 analis yang disurvei oleh CNBC, mayoritas tidak melihat mata uang tersebut melemah secara signifikan dalam jangka panjang. Sebaliknya, para ekonom memperkirakan bank sentral akan merekayasa depresiasi yang teratur dan bertahap.

“Devaluasi RMB (Renminbi) tidak akan menjadi bagian dari perangkat pembalasan Tiongkok terhadap tarif AS,” kata kepala valuta asing Asia HSBC Joey Chew, yang merujuk pada nama lain untuk yuan Tiongkok.

Ia menekankan, depresiasi yang cepat justru dapat melemahkan keyakinan konsumen dan menimbulkan risiko pelarian modal.

Arus keluar modal meningkat pada 2015 ketika Cina mendevaluasi yuan. Berdasarkan data Institusi Keuangan Internasional, Cina mengalami pelarian modal senilai hampir US$700 miliar pada tahun itu.

Dengan ekonomi Cina yang tersendat dan perlambatan ekonomi AS akibat kenaikan tarif AS yang cepat, arus keluar modal yang cepat dari negara tersebut dapat semakin mempersulit pekerjaan para pembuat kebijakan.

“Cara terbaik untuk membuat warga Amerika membayarnya adalah dengan menjaga mata uangnya tetap stabil,” katanya.

Komitmen para pembuat kebijakan Cina terhadap stabilitas ditegaskan oleh serangkaian langkah untuk menopang yuan awal tahun ini ketika lonjakan tajam dolar AS, menyebabkan mata uang lain jatuh di seluruh dunia. Upaya ini ditujukan untuk mencegah pelaku pasar menempatkan taruhan satu arah pada penurunan yuan.

Kepala strategi valuta asing Asia di Mizuho Ken Cheung,mengatakan, Bank Sentral Cina memang mengarahkan depresiasi yuan secara bertahap melalui penetapan nilai tukar, tetapi devaluasi tajam tidak mungkin terjadi. Ia memperkirakan, nilai tukar USD/CNY dalam negeri sebesar 7,12,  yang terendah di antara para analis yang disurvei.

Alih-alih menggunakan depresiasi mata uang untuk melawan dampak tarif AS, Cheung mengatakan, PBoC mungkin  memperkenalkan lebih banyak volatilitas valuta asing dua arah untuk menyesuaikan dengan kondisi pasar valuta asing yang bergejolak.

Tidak semua orang yang disurvei CNBC percaya bahwa Beijing akan memilih yuan yang stabil. Jika tarif tinggi yang diberlakukan oleh AS dan Cina tetap berlaku, Capital Economics memperkirakan yuan akan terdepresiasi secara signifikan.

Wakil kepala ekonom pasar di Capital Economics Jonas Goltermann  memperkirakan, nilai tukar USD/CNY akan mencapai 8 pada akhir tahun. Namun, pelemahan yuan  tidak akan sepenuhnya mengimbangi kenaikan tarif AS.

"Cina kemungkinan besar akan memanfaatkan stimulus domestik untuk mengimbangi kerugian perdagangan dan memproyeksikan stabilitas pasar," kata Kamil Dimmich, manajer portofolio di North of South Capital LLP.

PBoC pada Jumat (11/4)  menegaskan kembali rencananya untuk kebijakan yang “cukup longgar” karena Beijing bersiap menghadapi ketidakpastian yang meningkat di tengah perang dagang global yang meningkat pesat.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.