Purbaya Pede Hadapi Lonjakan Harga Minyak: Saya Cukup Pintar 

Ade Rosman
10 Maret 2026, 10:59
purbaya, APBN, harga minyak
ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/nz
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan percaya diri menghadapi harga minyak dunia yang sempat mencapai lebih dari US$ 110 per barel. Ia memastikan terus memantau perkembangan harga minyak yang terimbas perang di timur tengah tersebut. 

“Anda percaya aja, saya cukup pintar kok. Kita sudah ngalamin harga minyak tinggi berapa kali kan, banyak. Enggak hancur negaranya kan. Kenapa? Karena kebijakannya pas,” kata Purbaya di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (9/3).

Purbaya memastikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) siap meredam dampak lonjakan harga minyak dunia yang telah menembus US$ 110 per barel pada Senin (9/3). 

Pemerintah belum berencana menaikkan harga BBM bersubsidi meski harga minyak sudah jauh dari patokan dalam APBN 2026 sebesar US$ 70 per barel.  “Kalau harga minyak dunia naik pun, kami akan coba absorb lewat APBN dan kami akan kendalikan semaksimal mungkin,” katanya.

Purbaya menilai lonjakan harga minyak yang terjadi saat ini masih terlalu dini untuk dijadikan dasar perubahan kebijakan fiskal. Pasalnya, pemerintah biasanya menghitung dampak harga minyak terhadap APBN berdasarkan rata-rata dalam periode tertentu. 

Sejauh ini, menurut dia, pemerintah berupaya menyerap dampak lonjakan harga minyak melalui kebijakan fiskal agar momentum pertumbuhan ekonomi domestik tidak terganggu. 

“Kan baru satu hari. Hitungan kita kan status tahun penuh. Rata-rata setahun berapa? Kalau rata-rata setahun US$ 100 per barel berarti kan naik terus ke atas,” katanya.

Meski begitu, ia menegaskan tidak akan menunggu hingga akhir tahun untuk melakukan evaluasi. Pemerintah akan memantau perkembangan harga minyak global dalam jangka pendek, sebelum nantinya mengambil keputusan.

“Kalau setahun terlambat dong. Mau dikoreksi di akhir tahun sudah telat. Jadi kami lihat sebulan ini keadaannya seperti apa. Nanti kita evaluasi secara menyeluruh,” kata dia.

Purbaya menyebut ketersediaan cadangan minyak untuk 20 hari masuk dalam kategori berlebih dan bukan kekurangan. Ia menjelaskan, stok cadangan BBM untuk 20 hari merupakan kondisi yang normal. 

Namun, menurut dia, masalah cadangan BBM merupakan kapasitas Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia. Ia menjelaskan bahwa pemerintah biasa menyimpan cadangan BBM per 15 hari, sehingga cadangan 20 hari menurutnya merupakan hal yang normal. 

“Setiap saat tuh kita menyetok sekian puluh hari. Kalau nggak salah 15 hari lebih ya. Ini kan stoknya 20 hari berarti berlebih, bukan habis. Nanti kalau itu bisa beli lagi. Itu stok yang normal, bukan darurat,” kata Purbaya. 

Purbaya menjelaskan, pemerintah telah menghitung berapa banyak minyak yang harus dicadangkan. Ia menyebut, cadangan 20 hari BBM merupakan perhitungan yang ideal.  

“Ada yang bilang 'woah kita tinggal 20 hari lagi...' Bukan begitu, kalau distok setahun kan rugi. Ada cost-nya. Jadi strateginya seperti itu. Udah optimal itu,” kata dia. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ade Rosman
Editor: Agustiyanti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...