Perang dagang antara Amerika Serikat dan Cina terus memanas seiring langkah kedua negara saling berbalas tarif. Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto menilai, perang dagang akan berdampak pada kebijakan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve.
“Ada kemungkinan Fed Funds Rate atau suku bunga acuan Bank Sentral AS akan cenderung naik,” kata Eko dalam diskusi publik Indef, Kamis (17/4).
Menurut dia, The Fed setidaknya akan memilih untuk mempertahankan suku bunga acuannya di level saat ini, terutama dengan tekanan inflasi yang terjadi pada dolar AS. Selain itu, inflasi AS juga berpotensi meningkat karena kebijakan tarif Trump sehingga penurunan suku bunga kemungkinan tidak menjadi pilihan The Fed meski dibutuhkan dalam situasi ekonomi yang lesu.
“Supply chain terhambat dan seterusnya, inflasi sudah mengintai mereka,” ujar Eko.
Kebijakan Moneter AS akan Ketat
Eko menjelaskan, kebijakan moneter yang longgar melalui penurunan suku bunga memang dibutuhkan untuk memacu ekonomi Amerika yang tertekan dan bahkan berpotensi resesi karena tarif. Namun, inflasi yang berpotensi naik, menurut dia, akan membuat The Fed memilih kebijakan moneter ketat.
Kondisi ini, menurut dia, akan menjadi buah simalakama bagi ekonomi AS. “Kalau inflasinya naik, suku bunga naik. maka harapan Trump untuk kembali membangun industri di Amerika Serikat supaya banyak lapangan kerja bisa tersedia itu juga tidak tercapai,” ujar Eko.
Eko pun memproyeksi, suku bunga acuan The Fed paling tidak akan tetap berada pada levelnya saat ini sebesar 4,25-4,50%
Risiko Perlambatan Ekonomi Global
Laporan Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia bertajuk Manuver Startegis Indonesia Menghadapi Badai Tarif Resiprokal menyebut tarif tinggi Trump akan mendorong perlambatan ekonomi global.
Menurut laporan itu, kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat tidak hanya berdampak langsung terhadap kinerja ekspor Indonesia ke AS, tetapi menimbulkan implikasi luas terhadap stabilitas makroekonomi domestik.
“Pendekatan perdagangan unilateral yang diusung oleh Trump berisiko memperlambat aktivitas ekonomi global,” demikian tertulis riset terbaru CORE.
Hal ini terutama karena dinamika dan kemungkinan munculnya tarif balasan dari negara-negara mitra masih terbuka lebar. Situasi ini menciptakan ketidakpastian yang menghambat arus perdagangan dan pertumbuhan ekonomi dunia secara keseluruhan.
Tekanan global tersebut mulai tercermin dari penurunan harga berbagai komoditas utama. Per 10 April 2025, harga minyak dunia, baik West Texas Intermediate (WTI) maupun Brent Crude, telah terkoreksi masing-masing sebesar 1,32% dan 1,42%.
Penurunan ini juga diikuti oleh komoditas lainnya seperti minyak kelapa sawit mentah dan batu bara, dua komoditas ekspor unggulan Indonesia. Kombinasi antara tekanan tarif dan pelemahan harga komoditas ini semakin memperburuk kinerja neraca perdagangan Indonesia.