Menko Airlangga Sebut Data Belanja Online Tunjukkan Tak Ada Pelemahan Daya Beli
Menteri Koordinator atau Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebutkan data transaksi belanja online terus meningkat. Ini menunjukkan tidak ada pelemahan daya beli di tengah masyarakat.
Merujuk pada data Badan Pusat Statistik atau BPS, transaksi e-commerce pada kuartal II naik 7,55% secara kuartalan atau quarter to quarter (qtq).
Menko Airlangga mengatakan peningkatan itu sejalan dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II 5,12% secara tahunan alias year on year (yoy) dan 4,04% qtq.
Airlangga menyebutkan pertumbuhan jumlah transaksi belanja online tahun lalu 3,24 miliar kali atau naik lebih dari 11 kali lipat dibandingkan 2018 yang tercatat 80 juta kali.
Ia menyatakan peningkatan jumlah transaksi itu terutama disebabkan oleh pertumbuhan pembelian produk perawatan pribadi (personal care) dan kosmetik, serta produk rumah tangga dan kantor.
Pada 2024, nilai transaksi pembelian produk perawatan pribadi dan kosmetik Rp 67,6 triliun atau tumbuh 16,95% yoy. Sementara nilai transaksi produk rumah tangga dan kantor melonjak 29,38% yoy menjadi Rp 72,8 triliun.
Airlangga menyatakan data tersebut menunjukkan adanya fenomena pergeseran perilaku masyarakat dari berbelanja langsung ke belanja online.
“Kami melihat konsumsi masyarakat ini bergerak ke belanja online,” ujarnya.
Rohana dan Rojali Dinilai Terlalu Dibesar-besarkan
Menko Airlangga menyoroti data kinerja keuangan tiga perusahaan ritel besar di Indonesia yang mengalami pertumbuhan laba dan pendapatan lebih dari 5% sepanjang semester I.
Ketiga perusahaan yang dimaksud yakni pengelola Alfamart PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), pengelola penjualan brand internasioal seperti SOGO hingga ZARA PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) , serta PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA) yang mengelola toko ritel Sports Station hingga Kidz Station.
Pendapatan bersih AMRT, MAPI, serta MAPA masing-masing 7,76%, 8,72%, dan 11,51%. Sementara laba ketiganya naik 4,99%, 6,85%, dan 12,87%
Melihat data tersebut, Airlangga menyatakan bahwa isu ‘Rohana’ alias Rombongan Hanya Nanyabdan ‘Rojali’ atau Rombongan Jarang Beli yang seringkali dikaitkan dengan pelemahan daya beli masyarakat terlalu dibesar-besarkan.
“(Data transaksi belanja serta pendapatan dan laba ritel) ini menunjukkan bahwa terkait dengan isu Rohana dan Rojali ini, ini isu yang ditiup-tiup (dibesar-besarkan), jadi faktanya berbeda. Dan tentu (data) ini yang harus kita lihat,” kata dia.