Istilah Rojali menggambarkan fenomena yang sedang dihadapi masyarakat kelas menengah. Mereka menahan konsumsi untuk memenuhi kebutuhan pokok lain, serta investasi.
PT Daya Intiguna Yasa Tbk (MDIY) atau dikenal Mr. DIY membukukan laba Rp 507,38 miliar selama semester pertama 2025. Torehan ini turun 5% yoy dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 534,21 miliar
Kinerja moncer emiten pemegang merek H&M, Zara, hingga Starbucks ini diperoleh di tengah fenomena rojali alias rombongan jarang beli dan rohana alias rombongan hanya nanya.
BPS mengevaluasi rojali, sebuah fenomena dimana masyarakat ramai-ramai mengunjungi pusat belanja tanpa membeli, sebagai indikator tekanan ekonomi yang perlu diwaspadai lebih lanjut.
Fenomena "rojali" (rombongan jarang beli) dan "rohana" (rombongan hanya nanya) yang ramai diperbincangkan belakangan ini dinilai mencerminkan kondisi keuangan masyarakat yang sedang tertekan.
Menteri Perdagangan Budi Santoso membahas fenomena Rojali, di mana masyarakat cenderung meninjau barang sebelum membeli untuk memastikan kualitas dan harga.
Fenomena Rojali atau rombongan yang jarang belanja mengakibatkan penurunan pendapatan mal, terutama karena masyarakat menengah ke bawah lebih berhati-hati dalam berbelanja akibat kondisi ekonomi.
Fenomena 'Rojali' atau rombongan jarang beli di pusat perbelanjaan kini merupakan kebiasaan baru, terutama pasca-pandemi, yang mempengaruhi kegiatan retail dan dinamika ekonomi.
Munculnya fenomena rojali, dimana pengunjung mal besar-besaran namun jarang membeli, dikaitkan dengan menurunnya daya beli pasca pandemi dan pergeseran kebutuhan konsumsi.