Belanja Negara 2026 Tertinggi Sepanjang Sejarah, Tembus Rp 3.786 Triliun
Presiden Prabowo Subianto memutuskan untuk meningkatkan belanja negara pada 2026. Hal ini ia sampaikan dalam pidato Nota Keuangan di Gedung DPR, Jumat (15/8).
“Kualitas belanja negara harus terus kita tingkatkan. Belanja yang tidak efisien dipangkas, harus memberikan manfaat,” kata Prabowo dalam pidato RUU APBN 2026.
Belanja negara dalam RAPBN 2026 tercatat sebesar Rp 3.786,5 triliun, atau melonjak 7,3% dibanding tahun sebelumnya. Angka ini menjadi yang terbesar sepanjang sejarah, melampaui realisasi 2025 sebesar Rp 3.613 triliun.
Komponen belanja tersebut terdiri dari belanja pemerintah pusat sebesar Rp 3.136,5 triliun, melonjak 17,8% secara tahunan (year on year/yoy).
Rinciannya, belanja kementerian/lembaga (K/L) naik 17,5% menjadi Rp 1.498,3 triliun, sedangkan belanja non-K/L tumbuh lebih tinggi, yakni 18% menjadi Rp 1.638,2 triliun. Sementara itu, transfer ke daerah turun 24,8% menjadi Rp 650 triliun.
Pemerintah Bidik Pendapatan Rp 3.147,7 Triliun
Di sisi lain, pendapatan negara 2026 ditargetkan mencapai Rp 3.147,7 triliun, naik 9,8% dibandingkan tahun ini. Penerimaan perpajakan diproyeksikan sebesar Rp 2.692 triliun atau naik 12,8% secara tahunan.
Target penerimaan tersebut terdiri dari penerimaan pajak Rp 2.357,7 triliun (tumbuh 13,5%) dan pendapatan kepabeanan dan cukai Rp 334,3 triliun (naik 7,7%).
Adapun penerimaan negara bukan pajak (PNBP) pada 2026 diperkirakan mencapai Rp 455 triliun, turun 4,7% dibandingkan tahun sebelumnya. Ini merupakan penerimaan pemerintah pusat yang bukan berasal dari pajak.