Rupiah Tertekan Dolar AS yang Menguat di Tengah Pelepasan Obligasi Negara Maju
Nilai tukar rupiah diperkirakan masih akan tertekan terhadap dolar AS. Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan hal itu dipicu penguatan dolar AS kali karena kondisi ekonomi global saat ini.
“Dolar AS yang menguat di tengah perlepasan besar-besaranan obligasi di negara-negara ekonomi utama dunia. Di antaranya Uni Eropa, Inggris, Amerika Serikat, dan Jepang karena kekhawatiran fiskal dan politik,” kata Lukman kepada Katadata.co.id, Rabu (3/9).
Meski laporan ISM manufaktur Amerika Serikat sedikit lebih lemah dari perkiraan, hal itu tidak cukup untuk melemahkan dolar. Menurut Lukman, dolar AS masih bertahan kuat pada perdagangan hari ini.
“Sehingga rupiah diproyeksikan bergerak di kisaran Rp 16.400 per dolar AS hingga Rp 16.500 per dolar AS,” ujar Lukman.
Berdasarkan data Bloomberg pagi ini, rupiah dibuka melemah pada level Rp 16.419 per dolar AS. Level ini turun 5,50 poin atau 0,03% dari penutupan sebelumnya.
Meski begitu, Senior Economist KV Valbury Sekuritas Fikri C Permana masih melihat ada peluang penguatan rupiah. “Harapannya ada apresiasi kembali mendekati Rp 16.270 per dolar AS,” kata Fikri.
Peluang penguatan rupiah ini didukung berkurangnya kekhawatiran demo yang tidak bertanggung jawab di Indonesia. Selain itu, Fikri mengatakan incoming bids lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) juga masih cukup baik.
Meski begitu, Fikri mengatakan investor juga masih menanti data ekonomi penting dari AS. “Masih ada wait and see menjelang data US job opening nanti malam,” ujar Fikri.