Tensi perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan Cina mulai mereda setelah keduanya mencapai kesepakatan sementara. Presiden AS Donald Trump menurunkan tarif terhadap Cina dari 57% menjadi 47% usai bertemu dengan Presiden Cina Xi Jinping pada Kamis (30/10), menurut laporan Associated Press.

Dua kekuatan ekonomi terbesar dunia itu akhirnya menunjukkan tanda-tanda pendinginan setelah bertahun-tahun berseteru dalam perang dagang yang mengguncang rantai pasok global. Namun, bagi Indonesia, peluang dari situasi ini tidak datang tanpa tantangan.

Peluang untuk Indonesia

Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai kesepakatan dua raksasa ekonomi dunia itu akan membawa dampak luas terhadap perekonomian global, termasuk Indonesia.

“Keputusan ini bisa membuka peluang stabilitas ekonomi dunia, dan di sini termasuk Indonesia sendiri,” kata Ibrahim kepada Katadata.co.id, Jumat (31/10).

Dengan penurunan tarif impor, aktivitas perdagangan internasional diyakini akan lebih lancar. Negara berkembang seperti Indonesia pun berpeluang memperkuat posisi dalam rantai pasok manufaktur dunia.

Menurut Ibrahim, keputusan ini juga bisa memicu trade diversion atau pembelokan arus perdagangan. Amerika dan Cina akan mencari mitra baru untuk produk-produk yang masih terkena tarif tinggi.

“Indonesia, dengan potensi industrinya, bisa menjadi alternatif pemasok utama. Sektor manufaktur dan ekspor berbasis industri pengolahan punya peluang besar,” ujarnya.

Apalagi, Indonesia kini telah tergabung dalam blok ekonomi BRICS bersama India, Brasil, dan negara berkembang lainnya, yang membuka akses pasar lebih luas.

Namun, Ibrahim menekankan pentingnya menjaga politik luar negeri yang bebas aktif agar Indonesia tidak terseret dalam persaingan dua kekuatan besar itu.

“Indonesia jangan berpihak ke AS atau Cina. Justru dengan posisi bebas aktif, kedua negara akan lebih aktif mendekati kita,” ujarnya. 

Peluang Datang Bersama Tantangan

Meski ada peluang, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti mengingatkan agar Indonesia tidak larut dalam euforia. Ia menilai meredanya tensi dagang AS–Cina bukan berarti perang dagang telah berakhir.

“Kalau menurut saya, situasi perang dagang AS dan Cina ini masih panjang, on-off, on-off,” kata Esther.

Oleh karena itu, saat hubungan kedua negara tengah cooling down, Indonesia perlu memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat fondasi ekonomi. Esther menyebut empat langkah strategis yang perlu dilakukan pemerintah:

  1. Diversifikasi mitra dagang, agar tidak bergantung hanya pada AS dan Cina.
  2. Tingkatkan kualitas produk ekspor, sehingga mampu memenuhi standar global.
  3. Ciptakan iklim investasi yang kondusif, agar investor memandang Indonesia sebagai tujuan yang stabil.
  4. Perkuat transfer teknologi dan kualitas SDM, supaya industri baru tidak didominasi tenaga kerja asing.

“Tanpa kesiapan itu, Indonesia hanya akan jadi penonton dalam perubahan arus perdagangan global, bukan pemain utama,” ujar Esther.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Rahayu Subekti