Surplus Neraca Perdagangan September 2025 Susut Jadi US$ 4,34 Miliar

ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/nym.
Truk yang membawa peti kemas melintas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (2/10/2025).
Penulis: Rahayu Subekti
Editor: Sorta Tobing
3/11/2025, 12.15 WIB

Badan Pusat Statistik mencatat neraca perdagangan Indonesia masih surplus pada September 2025 sebesar US$ 4,34 miliar atau setara Rp 72,10 triliun.

“Neraca perdagangan telah mencatat surplus selama 65 bulan berturut-turut sejak Mei 2020,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (3/11).

Nilai surplus ini menyusut jika dibandingkan bulan sebelumnya. Pada Agustus 2025, neraca perdagangan tercatat mencapai US$ 5,49 miliar atau setara Rp 91,79 triliun. Surplus neraca perdagangan terjadi karena nilai ekspor RI pada periode tersebut masih lebih besar dibandingkan nilai impor.

Tercatat, kinerja ekspor pada September 2025 tumbuh 11,41% secara tahunan atau year on year (yoy) atau sebesar US$ 24,68 miliar atau setara Rp 410,32 triliun. Sedangkan kinerja impor pada periode tersebut tercatat mencapai US$ 20,34 miliar setara Rp 338,36 triliun atau naik 7,17% (yoy).

“Surplus pada September 2025 ini lebih ditopang oleh komoditas nonmigas, yaitu sebesar US$ 5,99 miliar,” ujar Pudji. Komoditas penyumbang surplus utamanya adalah lemak dan minyak hewani atau nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja.

Sesuai Proyeksi Ekonom

Sejumlah ekonom sebelumnya memproyeksikan surplus neraca perdagangan pada September 2025 akan merosot tajam. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memproyeksikan, surplus pada periode tersebut sekitar US$ 3,19 miliar atau setara Rp 53,34 triliun.

“Angka ini turun tajam dari USD 5,49 miliar (setara Rp 91,76 triliun) pada Agustus 2025,” kata Josua kepada Katadata.co.id, pagi tadi.

Ia mengatakan penurunan surplus karena ekspor melemah secara bulanan, sementara impor menguat. Meski menyusut, Josua menyebut hal ini masih meneruskan tren surplus neraca perdagangan yang panjang yakni 65 bulan berturut-turut.

Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro juga memproyeksikan hal yang sama. “Neraca perdagangan diperkirakan surplus US$ 3,2 miliar atau setara Rp 53,2 triliun pada September 2025. Surplus perdagangan ini lebih rendah,” kata Andry.

Surplus neraca perdagangan pada periode tersebut menyusut karena peningkatan impor secara bulanan. Sedangkan ekspor pada periode itu, ia mengatakan, turun secara bulanan. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Rahayu Subekti