BPS Soroti Pola Musiman di Balik Perlambatan Ekonomi Kuartal III 2025
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2025 mencapai 5,04% secara tahunan (year on year/yoy). Angka ini menunjukkan perlambatan dibandingkan kuartal II 2025 yang tumbuh 5,12% yoy.
Secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi sepanjang Januari hingga September 2025 tercatat 5,01%. Sementara secara kuartalan, ekonomi tumbuh 1,43% dibandingkan periode sebelumnya.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Moh Edy Mahmud menjelaskan perlambatan ekonomi pada kuartal III merupakan pola musiman yang biasa terjadi setiap tahun.
“Pertumbuhan ekonomi Indonesia secara kuartalan memang sejalan dengan pola musiman. Pada kuartal III selalu lebih rendah dibandingkan kuartal II,” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (5/11).
Meski melambat, konsumsi rumah tangga tetap menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi pada periode ini. “Pada triwulan III 2025, konsumsi rumah tangga menjadi sumber pertumbuhan tertinggi yaitu sebesar 2,54%,” kata Edy.
BPS mencatat konsumsi rumah tangga pada kuartal III 2025 tumbuh 4,89%, sedikit menurun dibandingkan kuartal sebelumnya yang tumbuh 4,97%. Kontribusinya terhadap PDB juga melemah dari 2,64% pada kuartal II.
Sementara itu, belanja pemerintah menunjukkan perbaikan. Pada kuartal III 2025, belanja pemerintah tumbuh 5,49% dengan kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) sebesar 7,17%. Kinerja ini membaik dibandingkan kuartal II 2025 yang masih terkontraksi 0,33% dengan kontribusi 6,93% terhadap PDB.
Sesuai Prediksi Ekonom
Permata Institute for Economic Research (PIER) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi kuartal III 2025 sebesar 5,04% yoy, melambat dari 5,12% pada kuartal sebelumnya.
“Kami memproyeksikan pertumbuhan PDB Indonesia akan melemah dari 5,12% yoy pada kuartal II menjadi 5,04% yoy pada kuartal III-2025,” kata Department Head of Macroeconomic and Financial Market Research Permata Bank Faisal Rachman.
Menurutnya, perlambatan ini terutama disebabkan oleh melemahnya konsumsi rumah tangga akibat ketidakpastian politik pada akhir Agustus 2025 yang menekan kepercayaan konsumen, serta normalisasi pembentukan modal tetap bruto (PMTB) seiring menurunnya impor barang modal.
Meski demikian, pertumbuhan ekspor diperkirakan tetap solid, ditopang oleh permintaan dari Amerika Serikat dan lonjakan wisatawan asing selama musim liburan musim panas.
Proyeksi Sepanjang Tahun dan Prospek 2026
Untuk keseluruhan 2025, PIER memperkirakan pertumbuhan PDB akan bertahan di kisaran 5,0%–5,1%, sedikit lebih tinggi dari 5,03% pada 2024.
“Secara keseluruhan, kami memproyeksikan pertumbuhan PDB pada kisaran 5,0%–5,1% untuk tahun 2025. Ini merupakan revisi ke atas dari proyeksi sebelumnya yang memperkirakan pertumbuhan sedikit di bawah 5%,” ujar Faisal.
Ke depan, tantangan utama pada 2026 masih serupa dengan tahun ini, yaitu ketegangan geopolitik, perang dagang, dan lambatnya pemulihan ekonomi Cina.
Namun, stagnasi ekonomi global dapat menahan tekanan inflasi, memberi ruang bagi penurunan suku bunga yang berpotensi mendorong minat investasi di pasar negara berkembang seperti Indonesia.
Dari sisi domestik, Faisal menilai stabilitas politik dan disiplin kebijakan fiskal akan menjadi kunci menjaga keseimbangan antara dorongan pertumbuhan dan stabilitas makroekonomi.