Rupiah Berpeluang Menguat Terbatas Jelang Rapat Bank Sentral AS The Fed
Rupiah diperkirakan menguat terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan hari ini (10/12), namun terbatas. Investor saat ini memantau rapat bank sentral AS The Fed.
“Penguatan akan terbatas, investor pada umumnya masih wait and see menjelang FOMC malam ini,” kata Analis Doo Financial Futures Lukman Leong kepada Katadata.co.id, Rabu (10/12).
Lukman mengatakan, penguatan rupiah juga didukung oleh kepercayaan konsumen yang kuat pada November. Selain itu, rupiah berpotensi menguat karena data penjualan ritel Indonesia yang diperkirakan naik.
“Rupiah diproyeksikan berada di level Rp 16.600 hingga Rp 16.700 per dolar AS,” ujar Lukman.
Sedangkan peneliti ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi memproyeksikan rupiah bergerak fluktuatif. “Namun ditutup melemah direntang Rp 16.670 hingga Rp 16.710 per dolar AS,” kata dia.
Ibrahim menjelaskan, ekspektasi pemangkasan suku bunga 25 basis poin oleh The Fed tetap kuat. Pasar berjangka saat ini memperkirakan peluang sebesar 87% bahwa bank sentral AS akan melonggarkan kebijakan pada 10 Desember.
“Ini mencerminkan harapan bahwa inflasi yang lebih rendah atau data ketenagakerjaan dapat mendorong langkah tersebut,” ujar Ibrahim.
Namun, Ibrahim mengatakan ada kehati-hatian di antara beberapa investor karena sinyal beragam dari para pembuat kebijakan. Hal ini menggarisbawahi ketidakpastian seputar kekuatan ekonomi AS yang membuka kemungkinan siklus pelonggaran yang lebih bertahap atau tertunda.
Berdasarkan data Bloomberg pagi ini, rupiah berada di level Rp 16.693 per dolar AS. Level ini melemah 17 poin atau 0,10% dari penutupan sebelumnya.