CORE: Pertumbuhan Ekonomi 2025 Terpangkas Akibat Banjir di Sumatera
Riset terbaru dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi di tiga provinsi terdampak bencana banjir, yakni Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara, akan terpangkas. Kondisi ini berpotensi mengoreksi pertumbuhan ekonomi pada 2025 hingga minus 0,02%.
Ekonomi Aceh diprediksi menghadapi tekanan terberat dengan estimasi koreksi pertumbuhan produk domestik regional bruto (PDRB) pada 2025 mencapai minus 0,44%. "Sumatera Utara akan terkoreksi 0,15% dan Sumatera Barat mencapai 0,36%,” tulis laporan CORE Insight bertajuk Konsekuensi Ekonomi di Balik Duma Sumatera dikutip Jumat (2/1).
Tak hanya pertumbuhan ekonomi, laju investasi di tiga provinsi ini juga akan terganggu. CORE memproyeksikan pertumbuhan investasi di Aceh akan minus 2,19%, Sumatera Utara minus 0,86%, dan Sumatera Barat minus 1,45%.
Ekonomi Nasional 2025 Ikut Terganggu
CORE mengestimasikan bencana Sumatera berpotensi mengoreksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 hingga 0,02%. Untuk level nasional, pertumbuhan investasi diperkirakan terpangkas 0,1% tahun ini.
Tekanan pada pertumbuhan nasional ini utamanya disebabkan oleh lumpuhnya aktivitas ekonomi di tiga provinsi terdampak. “Padahal ketiga provinsi ini menyumbang kurang lebih 9% PDB nasional,” tulis CORE Indonesia.
Sebanyak 52 kabupaten dan kota terdampak menyumbang sekitar 5,9% PDB nasional. Dengan koreksi pertumbuhan ekonomi nasional akibat bencana Sumatera, CORE mengatakan target pertumbuhan ekonomi yang dicanangkan pemerintah pada 2025 dan 2026 kemungkinan besar akan semakin sulit dicapai.
Dampak Ekonomi akan Lebih Panjang
Dengan adanya potensi pertumbuhan ekonomi yang terpangkas, CORE menyatakan skala dampak ekonomi dari bencana Sumatera juga dapat berlangsung lebih panjang dari satu tahun.
“Pembelajaran dari Tsunami Aceh menunjukkan guncangan ekonomi akibat bencana besar tidak berhenti pada fase darurat, tetapi berlanjut ke fase pemulihan yang memakan waktu panjang,” tulis CORE Indonesia.
Setelah kontraksi tajam pada awal kejadian pada 2004, pertumbuhan ekonomi Aceh tercatat berfluktuasi dan tetap berada di bawah tekanan selama beberapa tahun. Hal ini sebelum akhirnya kembali stabil dan mulai tumbuh positif secara konsisten 2010.
“Kondisi ini mencerminkan rusaknya kapasitas produksi, terganggunya rantai pasok, serta tertundanya investasi akibat ketidakpastian yang berkepanjangan,” tulis laporan tersebut.