Rupiah Menguat di Tengah Melunaknya Ancaman Trump terhadap Greenland
Rupiah dibuka menguat pada perdagangan Senin (26/1). Menurut data Bloomberg, rupiah berada di level Rp 16.762 per dolar AS pada pukul 09.29 WIB seiring dengan melemahnya dolar AS sebesar 58 poin atau 0,34%.
Pada Jumat (23/1) sore, mata uang rupiah ditutup menguat 76 poin di level Rp 16.820.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan situasi ini berkaitan dengan Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) yang meminta Bank Indonesia (BI) untuk berhati-hati dalam melakukan intervensi rupiah di pasar valuta asing. Ia mengatakan, rupiah harus tetap berfungsi sebagai peredam guncangan utama di tengah tingginya ketidakpastian global.
IMF menilai pengaturan nilai tukar Indonesia masih mengambang secara de facto. “Artinya, secara praktik, rupiah dibiarkan bergerak mengikuti mekanisme pasar, dengan pergerakan rupiah yang signifikan selama episode tekanan eksternal terbaru,” kata Ibrahim dalam kererangannya, dikutip Senin (26/1).
Ibrahim mengatakan, dalam kondisi tersebut, BI menerapkan intervensi valuta asing (foreign exchange intervention/FXI) untuk mengelola volatilitas nilai tukar.
“IMF mencatat intervensi dilakukan melalui berbagai instrumen, mulai dari pasar spot valuta asing, domestic non-deliverable forward (DNDF), hingga intervensi non-deliverable forward (NDF) di luar negeri. Namun demikian, IMF menekankan intervensi harus dilakukan secara bijaksana dan terukur,” katanya.
Di sisi lain, IMF juga menyatakan upaya stabilisasi nilai tukar tidak boleh menghambat penyesuaian fundamental yang diperlukan, serta harus mempertimbangkan kebutuhan menjaga kecukupan cadangan devisa di tengah lingkungan eksternal yang rawan guncangan.
“IMF menilai posisi cadangan devisa Indonesia saat ini tetap memadai dan menyambut baik langkah otoritas dalam mengisi kembali cadangan ketika tekanan eksternal mulai mereda,” kata Ibrahim.
Di sisi lain, IMF menyoroti arah kebijakan moneter BI yang dinilai sudah tepat.
“BI tercatat telah menurunkan suku bunga kebijakan sebesar 25 basis poin sebanyak enam kali sejak siklus pemangkasan suku bunga bank sentral Amerika Serikat dimulai pada September 2024 hingga September 2025, sehingga suku bunga acuan berada di level 4,75%, di tengah pertumbuhan kredit yang masih lemah,” kata Ibrahim.
Menurut Ibrahim, saat ini dolar AS melemah karena para pelaku pasar menunggu kandidat pilihan Presiden AS Donald Trump untuk Gubernur Fed berikutnya yang menggantikan Jerome Powell.
“Gubernur The Fed yang lebih lunak akan meningkatkan spekulasi tentang penurunan suku bunga lebih lanjut tahun ini,” katanya.
Selain itu, ia menggambarkan situasi ini dipengaruhi melunaknya ancaman Presiden AS Donald Trump terhadap Greenland.
“Setelah Trump mengatakan dia telah mengamankan akses total dan permanen AS ke Greenland dalam kesepakatan dengan NATO, yang kepala NATO mengatakan sekutu harus meningkatkan komitmen mereka terhadap keamanan Arktik untuk menangkal ancaman dari Rusia dan Cina,” katanya.
Sementara itu, para pemimpin Uni Eropa akan mempertimbangkan kembali hubungan dengan AS pada pertemuan puncak darurat pada hari Kamis (22/1) setelah ancaman Trump tentang tarif dan tindakan militer untuk menguasai Greenland sangat mengguncang kepercayaan dalam hubungan transatlantik.