Purbaya Bakal Pelototi Anggaran MBG, Pastikan Tak Ada Pemborosan
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa akan menelisik kembali anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG). Purbaya menyebut langkah ini dilakukan untuk mengoptimalkan berjalannya program unggulan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto tersebut.
"Saya sih enggak anti program MBG. Tapi saya ingin lihat programnya berjalan secara optimal,” kata Purbaya di Thamrin Nine Ballroom, Jakarta, Selasa (27/1).
Untuk memastikan optimalnya program MBG, Purbaya akan merinci setiap anggaran yang digunakan dalam program ini. Jika nantinya ada yang dinilai tidak efektif, maka menurutnya dapat dialihkan ke program lainnya.
“Nanti akan kami sisir satu per satu, adakah yang enggak optimal? Yang bisa kami sisihkan untuk entah mengurangi defisit atau alihkan ke program yang lebih baik,” katanya.
Purbaya akan ‘menyisir’ setiap anggaran yang dialokasikan terkait program MBG dan akan menggelar rapat berkaitan hal itu dalam waktu dekat.
“Kalau kami lihat catatan tahun lalu yang habisnya sekian puluh triliun, enggak sampai 100% kan. Coba itu kalau untuk full year tahun ini, kami bisa ukur kira-kira berapa? Paling enggak, kami overview, kami lihat apa ada yang berlebih,” kata dia.
Purbaya sebelumnya menyatakan pemerintah tidak akan memangkas anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dialokasikan sebesar Rp 335 triliun. Namun, ia akan memonitor penggunaan angaran MBG untuk mencegah efisiensi dan pemborosan.
“Minggu depan akan saya lihat line per line apa sih anggaran mereka. Nanti kami lihat mana yang duplikasi, double counting, segala macam, kami lihat. Mana yang mungkin, mana yang enggak (mungkin), mana yang pemborosan atau enggak, itu kami lihat,” kata Purbaya di kawasan Kantor Kementerian Keuangan Jakarta, Selasa (20/1).
Dari monitoring tersebut, kata Purbaya, ia akan mengetahui pos anggaran yang efisien maupun sebaliknya. “Kami akan lihat yang inefisien, tapi program itu program bagus kami akan dukung supaya jalannya maksimal,” kata dia.
Badan Gizi Nasional (BGN) mengatakan realisasi anggaran untuk program makan bergizi gratis (MBG) sudah mencapai Rp 17,39 triliun hingga Selasa (20/1). Jumlah ini terhitung sejak 8 Januari lalu atau hari pertama program MBG berjalan pada 2026.
“Mendekati Rp 18 triliun, mungkin ini salah satu badan atau kementerian yang sudah bisa merealisasikan anggaran sebesar itu,” kata Kepala BGN, Dadan Hindayana dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi IX DPR RI, Selasa (20/1).
Dia menyebut anggaran tersebut langsung masuk ke kantong kas satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG). Anggaran ini 70% digunakan untuk membeli bahan baku, 20% untuk membiayai operasional, termasuk gaji relawan, dan 10%nya untuk insentif bagi seluruh mitra yang terlibat.
Dadan menyebut per Senin (19/1) sudah ada 21.102 SPPG. Makan Bergizi Gratis juga telah menjangkau 58,3 juta penerima manfaat. Seluruh SPPG yang berdiri ini dibiayai sepenuhnya oleh mitra. Hingga saat ini belum ada uang negara yang digunakan untuk pembangunan infrastruktur SPPG.
“Target SPPG di 2026 kami perkirakan 28 ribu unit aglomerasi dan 8.617 unit di daerah terpencil,” ujarnya.
Secara keseluruhan, BGN menargetkan total porsi yang bisa disajikan dalam program MBG tahun ini sebanyak 21 miliar. BGN mencatat alokasi anggaran yang dikeluarkan untuk program MBG sebanyak Rp 855 miliar per hari. Anggaran ini didistribusikan ke seluruh Indonesia dengan besaran alokasi yang sama.
“Jadi BGN untuk 12 hari saja sudah mengirim uang Rp 9 triliun ke 19.188 satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG),” kata Dadan kepada Katadata, Kamis (6/1).
Dengan jumlah tersebut, Dadan memprediksi BGN akan mengeluarkan anggaran Rp 17 triliun untuk MBG sepanjang Januari 2026. Jumlahnya akan naik Rp 2 triliun menjadi Rp 19 triliun pada Februari. Sementara untuk Maret Rp 20 triliun, April Rp 21 triliun, Mei prediksi anggarannya Rp 22-23 triliun.
“Nanti kalau sudah mencapai 82,9 juta penerima manfaat, maka uang yang beredar setiap hari untuk program MBG itu Rp 1,2 triliun setiap hari,” ujarnya kepada Katadata.co.id, Kamis (6/1).