Neraca Perdagangan RI Surplus Rp 676 Triliun Tahun Lalu, Paling Besar dengan AS
Indonesia mencatatkan surplus neraca perdagangan mencapai US$ 41,05 miliar atau sekitar Rp 676,3 triliun (kurs rata-rata 2025 Kementerian Keuangan: Rp 16.475 per dolar AS). Surplus ini melonjak 31% atau 9,72 miliar dibandingkan 2024 seiring masih melonjaknya ekspor di tengah permintaan impor yang belum naik kencang.
"Neraca perdagangan Indonesia telah mencatat surplus selama 68 bulan berturut-turut sejak bulan Mei tahun 2020," ujar Deputi Bidang Statistik Sosial BPS Ateng Hartono dalam konferensi pers kinerja ekspor impor pada Senin (2/2).
Ia mencatat neraca perdagangan kembali surplus pada Desember sebesar US$ 2,51 miliar, meski turun dibandingkan bulan sebelumnya US$ 2,66 miliar.
Adapun secara keseluruhan tahun, surplus kenaikan neraca perdagangan melonjak seiring kinerja ekspor yang naik lebih tinggi dibandingkan impor. Total ekspor mencapai US$ 282,9 miliar, naik 6,15% dibandingkan 2024 yang mencapai US$ 266,53 miliar. Sedangkan impor hanya naik 2,83% menjadi US$ 241,86 miliar.
Ateng menjelaskan, surplus terbesar masih dicatatkan Indonesia terhadap perdagangan dengan Amerika Serikat mencapai US$ 18,11 miliar, naik dibandingkan US$ 14,52 miliar. Surplus ke AS tetap meningkat meski perdagangan kedua negara sempat diterpa rencana kenaikan tarif oleh Presiden Donald Trump.
Indonesia juga mencatatkan surplus jumbo dengan sebesar US$ 14,49 miliar pada tahun lalu, meski turun dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai US$ 14,7 miliar.
Sedangkan perdagangan Indonesia dengan Cina mencatatkan defisit besar mencapai US$ 20,5 miliar, melonjak US$ 11,11 miliar dibandingkan 2024.
Adapun ekspor ke Amerika Serikat didominasi oleh mesin dan peralatan elektrik, pakaian dan aksesorisnya, serta alas kaki, sedangkan ekspor ke India di dominasi oleh bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewan/nabati, serta besi dan baja. Sementara itu, Indonesia banyak mengimpor mesin dan peralatan mekanik, mesin dan peralatan elektrik, serta kendaraan dan bagiannya.