Nilai tukar rupiah menguat 0,02% ke level 16.858 per dolar AS pada perdagangan pagi ini, Selasa (2/3). Namun, rupiah berpotensi melemah di tengah perang Iran dengan AS dan Israel.
“Rupiah diperkirakan masih berpotensi melemah terhadap dolar AS di tengah sentimen yang masih risk off pada umumnya oleh eskalasi di timur Tengah,” kata Analis Doo Financial Lukman Leong kepada Katadata, Selasa (3/3).
Ia memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang 16.800-16.950 per dolar AS.
Berdasarkan data Bloomberg, kurs rupiah dibuka menguat tipis 3 poin ke level 16.865 per dolar AS. Rupiah pun bergerak menguat ke level 16.858 per dolar AS hingga pukul 10.00 WIB.
Adapun pada penutupan perdagangan hari sebelumnya, Rupiah melemah 0,48% 16.868 per dolar AS pada penutupan Senin (2/3), tertekan sentimen risk off akibat eskalasi perang Iran versus AS-Israel yang mendorong penguatan dolar AS.
Di tengah risiko pelemahan rupiah, Lukman berharap BI kembali aktif mengintervensi dan membatasi perlemahan Rupiah saat ini.
Bank Indonesia sebelumnya memastikan akan menjaga nilai tukar rupiah bergerak sesuai fundamentalnya di tengah meningkatnya sentimen risk off di pasar keuangan global usai serangan Amerika Serikat ke Iran.
"Bank Indonesia akan terus mencermati pergerakan pasar secara seksama dan merespons secara tepat, termasuk memastikan nilai tukar Rupiah bergerak sesuai dengan fundamentalnya," ujar Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas (DPMA) Erwin Gunawan Hutapea dalam siaran pers, Senin (2/3).
Ia menjelaskan, eskalasi konflik di Timur Tengah usai serangan AS ke Iran mendorong sentimen risk off di pasar keuangan global. Ia pun memastikan BI akan selalui hadir di pasar melalui intervensi baik transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri maupun transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.
"BI juga akan terus mengoptimalkan kebijakan untuk meningkatkan efektivitas transmisi kebijakan suku bunga," ujar Erwin.
Senada, Deputi Gubernur BI Aida S. Budiman menyatakan pihaknya akan memastikan terus memantau dampak konflik geopolitik di Timur Tengah terhadap perekonomian domestik, khususnya menjelang Lebaran.
“Tentunya Bank Indonesia akan terus melakukan monitoring tentang indikator-indikator terkini,” ujarnya