Belanja Masyarakat jelang Lebaran Diprediksi Naik, Program BINA Jadi Andalan

ANTARA FOTO/Destyan Sujarwoko/foc.
Petugas gabungan memeriksa produk parsel dan bahan pangan isi parsel yang diperdagangkan di salah satu swalayan di Tulungagung, Jawa Timur, Jumat (27/2/2026). Pengawasan yang melibatkan Dinas Kesehatan, BPOM, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, DPMPTSP, serta Dinas Koperasi dan UKM tersebut dilakukan untuk memastikan produk jajanan/minuman yang dijual memenuhi standar keamanan kesehatan pangan, memiliki izin produksi dan izin edar, dalam kondisi layak konsumsi, serta tidak kedaluwarsa menjelang Lebaran.
Editor: Ahmad Islamy
6/3/2026, 20.03 WIB

Pemerintah optimistis konsumsi masyarakat menjelang Ramadan dan Lebaran 2026 akan meningkat dan menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama tahun ini. Menko perekonomian, Airlangga Hartarto menilai berbagai program stimulus, termasuk Program Belanja di Indonesia Aja (BINA) Lebaran 2026, akan menggerakkan aktivitas ekonomi domestik.

“Kami berharap momentum ini bisa mendorong pertumbuhan ekonomi di kuartal pertama. Kuartal pertama ini harus kita nongkrak, dan harapannya lebih tinggi dari tahun lalu,” ujarnya dalam peluncuran BINA Lebaran 2026, Jumat (5/3).

Program BINA Lebaran 2026 digelar selama 25 hari, mulai 6 hingga 30 Maret 2026. Program ini adalah kerja sama pemerintah dengan pelaku usaha ritel untuk meningkatkan transaksi masyarakat selama periode Ramadan dan Lebaran. Kegiatan tersebut rutin diselenggarakan pada berbagai momentum hari besar keagamaan.

Airlangga menilai tanda-tanda peningkatan konsumsi sudah terlihat sejak awal tahun. Berdasarkan pemantauan pemerintah, tingkat kepercayaan konsumen masih berada pada level tinggi.

“Kalau kita lihat Januari dan Februari ini konsumen kita lumayan bergeliat. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) juga tinggi di angka 127,” katanya.

Selain mendorong program belanja, pemerintah juga menggelontorkan sejumlah stimulus pada triwulan pertama 2026. Bantuan sosial menjadi salah satu instrumen utama, termasuk penyaluran beras dan minyak goreng bagi masyarakat.

Pemerintah menyalurkan bantuan beras 10 kilogram per bulan serta minyak goreng 2 liter selama dua bulan berturut-turut kepada sekitar 35 juta keluarga penerima manfaat. Total anggaran yang digelontorkan untuk program tersebut mencapai Rp11,92 triliun.

Di sektor transportasi, pemerintah juga mendorong penurunan tarif guna meningkatkan mobilitas masyarakat selama periode mudik dan libur Lebaran. Rata-rata penurunan tarif transportasi, khususnya untuk tiket pesawat kelas ekonomi, diperkirakan mencapai sekitar 30 persen.

Selain itu, kebijakan work from anywhere (bekerja dari mana saja) juga didorong agar masyarakat dapat memanfaatkan periode perjalanan dengan lebih fleksibel sekaligus menjaga pergerakan ekonomi di berbagai daerah.

Airlangga menambahkan, pencairan tunjangan hari raya (THR) juga akan menjadi sumber daya beli yang besar di masyarakat. THR bagi aparatur sipil negara, TNI, dan Polri mencapai Rp55 triliun. Sementara itu, sektor swasta mengeluarkan THR sekitar Rp124 triliun.

Di sisi lain, pengemudi ojek online juga akan menerima dana hari raya dari perusahaan aplikator dengan total sekitar Rp220 miliar. “Sebetulnya dana yang dibelanjakan besar,” kata dia.

Melalui Program BINA Lebaran 2026, pemerintah menargetkan total transaksi mencapai Rp53,38 triliun, atau naik sekitar 20% dibandingkan tahun lalu. Program ini akan diikuti oleh sekitar 800 jenama, sekitar 80 gerai ritel, serta lebih dari 400 anggota pusat perbelanjaan di seluruh Indonesia.

Airlangga berharap berbagai promosi dan diskon yang ditawarkan dalam program tersebut dapat semakin mendorong minat belanja masyarakat. “Diskonnya dijanjikan bisa sampai 70 sampai 80%,” ujarnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nuzulia Nur Rahmah