Skema WFH ASN untuk Hemat BBM Rampung, Bakal Diumumkan Pekan Ini

ANTARA FOTO/Fauzan/hma/tom.
Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto (kiri) dan Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi (kanan) menyampaikan keterangan saat konferensi pers terkait tunjangan hari raya (THR) di Kantor Kemenko Bidang Perekonomian, Jakarta, Selasa (3/3/2026). Pemerintah menyiapkan anggaran sebesar Rp55 triliun atau naik 10 persen dari tahun sebelumnya untuk membayar THR bagi sekitar 10,5 juta aparatur negara serta meminta pihak swasta membayarkan THR secara penuh tanpa dicicil kepada pekerja paling lambat tujuh hari seb
Penulis: Ade Rosman
Editor: Agustiyanti
27/3/2026, 14.03 WIB

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto telah memfinalisasi skema work from home (WFH) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN). Kebijakan ini merupakan strategi pemerintah untuk menghemat energi guna mengantisipasi dampak perang Iran. 

“Segera, sebelum April. Kira-kira (diumumkan) minggu ini,” kata Airlangga di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta Pusat, Jumat (27/3). 

Kendati demikian, Airlangga belum mengungkapkan kebijakan ini akan diumumkan dan mulai diterapkan. Ia mengaku tengah menunggu arahan dari Presiden Prabowo Subianto.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan kebijakan work from home (WFH) sebelumnya mengatakan, pengumuman skema WFH akan disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian,Airlangga Hartarto.

“Sudah diputuskan, nanti diumumkan, bukan saya yang mengumumkan,” kata Purbaya di kantor Kemenkeu, Jakarta Pusat, Rabu (25/3).

Dalam membuat skema WFH, pemerintah menghitung dampaknya terhadap aktivitas ekonomi. Ini karena penerapan WFH dapat mengurangi kegiatan masyarakat.

“Jadi hitungannya nggak satu titik saja, itu yang namanya general equilibrium approach. Sehingga enggak ada yang hilang dari ekonomi itu,” katanya.

Purbaya mengatakan, pemerintah menilai Jumat menjadi hari dengan jam kerja paling pendek. Dengan demikian, dampak dari kebijakan WFH pada hari tersebut terhadap ekonomi secara keseluruhan dapat relatif lebih kecil.

"Di pabrik juga sama kan paling pendek itu, jadi dipilih yang paling sedikit shock-nya ke produktivitas,” katanya.

Pemerintah tengah mengkaji kebijakan kerja fleksibel atau WFH selama satu hari dalam seminggu guna menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM). Kebijakan ini diperkirakan dapat mengurangi sekitar 20% konsumsi BBM nasional.

Purbaya sebelumnya mengatakan, estimasi itu berdasarkan kalkulasi kasar di internal pemerintah. “Ada hitungan kasar sekali, kira-kira (penghematan) seperlimanya, sekitar 20%,” kata dia, usai salat Id di Masjid Salahuddin, di kantor Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta, Sabtu (21/3).

Menurut dia, pemerintah tidak menyarankan WFH lebih dari sehari meski kebijakan tersebut berpotensi menghemat BBM lebih banyak. Ini karena ada kekhawatiran penurunan efektivitas kerja.

“Kalau terus-terusan WFH, nanti tidak kerja-kerja. Ada hal-hal yang tidak bisa dikerjakan dengan baik dari rumah,” ujarnya.

Dia juga menyoroti potensi penyalahgunaan fleksibilitas kerja, seperti kecenderungan pekerja sulit dicari saat WFH. Meskipun, kebijakan itu dapat mendorong aktivitas ekonomi masyarakat termasuk sektor pariwisata.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan bahwa kebijakan WFH akan diterapkan satu hari dari lima hari kerja dan menyasar aparatur sipil negara (ASN) serta sektor swasta, dengan pengecualian pada layanan publik.

“WFH akan didetailkan, tetapi sesudah Lebaran kita akan melakukan. Satu hari saja,” ujarnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ade Rosman