Perang Iran Berpotensi Reda, Rupiah Diprediksi Menguat ke Rp 16.980 per Dolar AS

Katadata/Fauza Syahputra
Petugas menunjukkan pecahan mata uang rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran uang asing di Jakarta, Rabu (21/1/2026).
1/4/2026, 09.55 WIB

Nilai tukar rupiah diproyeksikan menguat terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan hari ini. Rupiah diprediksi menguat seiring meredanya sentimen negatif global dan meningkatnya minat investor ke pasar keuangan.

Senior Ekonom KB Valbury Sekuritas, Fikri C Permana, memperkirakan rupiah memiliki ruang apresiasi hingga ke level Rp 16.980 per dolar AS. Menurut Fikri, salah satu faktor utama penguatan rupiah adalah terbukanya peluang perdamaian antara Donald Trump dan Iran, yang menurunkan ketidakpastian global.

“Dengan adanya sinyal ruang perdamaian, sentimen risk-off global mulai mereda sehingga tekanan terhadap mata uang emerging market, termasuk rupiah, ikut berkurang,” ujarnya kepada Katadata.co.id, Rabu (1/4).

Berdasarkan Bloomberg, rupiah dibuka di level di level Rp 16.966 per dolar AS menguat 0,51% atau 59 poin. Hingga pukul 09.04 WIB Rupiah perlahan melemah Rp 16.971 per dolar AS melemah 0,41% atau 70 poin.

Adapun pada penutupan perdagangan sebelumnya rupiah spot ditutup di level Rp 17.041 per dolar Amerika Serikat (AS). Ini membuat rupiah melemah 0,23% dibanding penutupan hari sebelumnya yang berada di Rp 17.002 per dolar AS.

 Sejalan dengan itu, berdasarkan kurs Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah juga melemah 0,035% secara harian ke Rp 16.999 per dolar AS, dari sebelumnya Rp 16.993.

 Fikri menjelaskan faktor lain seperti terjadi pergeseran alokasi investasi dari komoditas ke instrumen keuangan seperti obligasi dan saham. Kondisi ini dinilai positif bagi pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

 Fikri juga melihat adanya harapan aliran dana asing kembali masuk ke pasar keuangan domestik, yang dapat menopang penguatan rupiah dalam jangka pendek.

 Dari sisi domestik, kebijakan pemerintah yang menjaga stabilitas harga BBM turut membantu meredam ekspektasi inflasi. Hal ini menjadi sentimen positif tambahan bagi pergerakan rupiah.

 Menurut Fikri, stabilitas inflasi menjadi salah satu faktor penting yang diperhatikan investor dalam menentukan alokasi portofolio di pasar negara berkembang.

 “Dijaganya harga BBM dalam negeri dan menurunkan ekspektasi risiko inflasi domestik. Harapan mulai adanya net buy di pasar keuangan indonesia di hari ini,” katanya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nuzulia Nur Rahmah