Bank Sentral Cina menarik likuiditas dari sistem keuangannya untuk pertama kalinya dalam setahun. Pasar menilai ini sebagai sinyal kehati-hatian agar tetap memiliki ruang kebijakan di tengah dampak kenaikan harga minyak.

Dilansir dari Bloomberg pada Kamis (2/4), People’s Bank of China menarik total likuiditas sebesar 890 miliar yuan (sekitar US$129 miliar) melalui operasi pasar terbuka jangka pendek pada Maret.

Mereka juga menyerap tambahan 250 miliar yuan melalui instrumen jangka menengah dan panjang, termasuk reverse repo dan fasilitas pinjaman jangka menengah.

Langkah ini menandai perubahan tajam setelah berbulan-bulan peningkatan likuiditas. Langkah serupa juga pernah diambil Bank Sentral Cina saat menopang perlambatan ekonomi terdalam sejak pembukaan kembali pasca lockdown Covid-19 pada akhir 2022. 

Namun, seiring pemulihan ekonomi di awal tahun, bank sentral mulai lebih waspada, terutama karena perang di Iran mendorong lonjakan harga minyak dan membawa Cina mendekati deflasi yang panjang.

“Para pembuat kebijakan ingin menyimpan amunisi untuk masa depan ketika suntikan likuiditas lebih dibutuhkan,” kata kepala ekonom Greater China di ING Bank Lynn Song.

 Menurutnya, langkah ini menunjukkan bahwa bank sentral tidak ingin membanjiri pasar antarbank karena likuiditas saat ini sudah cukup melimpah.  Seiring dampak kenaikan harga ke seluruh perekonomian, sejumlah analis mulai menunda proyeksi penurunan suku bunga dan rasio cadangan wajib bank di Cina. 

Meski kecil pengetatan kebijakan moneter, bank sentral diperkirakan akan lebih berhati-hati dalam menambah stimulus di tengah tingginya ketidakpastian global. Sebagai perbandingan, sejumlah bank sentral global lainnya justru tengah bersiap menaikkan suku bunga atau telah melakukannya. 

Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) bahkan telah menaikkan proyeksi inflasi negara-negara utama pada akhir Maret. Sedangkan rata-rata inflasi negara G20 diperkirakan mencapai 4% tahun ini, lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya sebesar 2,8% pada Desember.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nuzulia Nur Rahmah