Liputan Khusus | Katadata IDE 2026

Bappenas Sebut Risiko Global Kini Bergeser ke Geoekonomi

Katadata/Fauza Syahputra
Deputi Bidang Ekonomi dan Transformasi Digital Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas Vivi Yulaswati saat menyampaikan closing remarks \"Strategi Pembangunan Indonesia di Tengah Pergeseran Tatanan Dunia\" di IDE Katadata Future Forum 2026, di Djakarta Theater, Rabu (15/4).
Penulis: Mela Syaharani
15/4/2026, 20.30 WIB

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional atau Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) mengatakan kondisi dunia saat ini membuat risiko global mengalami pergeseran. Sebelumnya, sektor yang menjadi risiko global terbesar adalah perubahan iklim, namun saat ini posisi tersebut berganti menjadi konfrontasi terkait geoekonomi.

“Hal ini tidak hanya didorong oleh instrumen ekonomi tetapi juga instrumen politik yang merupakan risiko global utama saat ini,” kata Deputi Bidang Ekonomi dan Transformasi Digital Bappenas Vivi Yulaswati dalam acara IDE Katadata Future Forum 2026, Rabu (15/4).

Vivi menyebut instrumen perdagangan dan teknologi saat ini juga dimanfaatkan negara-negara sebagai senjata strategis. Dia menyebut kondisi ini akan mendatangkan beberapa gejolak, utamanya seperti harga energi dan akhirnya sampai pada terganggunya harga-harga komoditas penting seperti bahan baku pupuk.

Seperti yang diketahui, saat ini tengah berlangsung Perang Timur Tengah yang melibatkan antara Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel. Konflik yang meletus sejak akhir Februari ini telah menghambat pasokan energi dan beberapa komoditas lainnya ke seluruh dunia. Pasalnya, fasilitas energi dan rute vital bernama Selat Hormuz telah ditutup aksesnya saat perang berlangsung.

Dampak Negatif Konflik Geopolitik terhadap Ekonomi Indonesia

Lebih lanjut, Vivi mengatakan Indonesia juga merasakan dampak adanya perang ini. Dia menyebut konflik geopolitik ini berpotensi mengakibatkan banyak dampak negatif terhadap kinerja perekonomian Indonesia khususnya di 2026.

“Seperti kekhawatiran akan turunnya pertumbuhan ekonomi yang sebetulnya Bapak Presiden (Prabowo Subianto) inginkan terus tumbuh serta kenaikan inflasi,” ujarnya.

Tak hanya itu, perang ini juga pada nantinya berpeluang menurunkan cadangan devisa negara, kesempatan kerja, hingga meningkatkan angka kemiskinan.

Presiden Prabowo telah menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai 8% pada 2029. Vivi menyebut di tengah kondisi global saat ini pemerintah perlu merancang arah pertumbuhan ekonomi dengan optimis namun tetap realistis.

Tahun ini Bappenas menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai 6,3% sementara pada 2027 mencapai 7,5%. “Angkanya memang lumayan tinggi sehingga kami perlu pikirkan berbagai sumber pertumbuhan baru,” ucapnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Mela Syaharani