Nilai tukar rupiah ditutup menguat 4 poin di level 17.138 per dolar AS pada perdagangan sore ini, Kamis (16/4). Rupiah perkasa di tengah pelemahan indeks dolar AS dan meningkatnya harapan meredanya konflik di Timur Tengah.
Berdasarkan data Bloomberg, mayoritas mata uang bergerak menguat terhadap dolar AS. Peso Filipina menguat 0,18%, rupee India 0,12% dan baht Thailand 0,18%, dolar Taiwan 0,28%, dan dolar Hong Kong 0,09%. Sedangkan yen Jepang 0,02% dan won Korea Selatan 0,08%.
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai penguatan rupiah didorong oleh melemahnya indeks dolar AS serta optimisme pasar terhadap potensi deeskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
“Harapan untuk meredakan ketegangan AS-Iran, menyusul laporan bahwa Iran dapat mengizinkan kapal untuk melewati Selat Hormuz, lebih besar daripada kekhawatiran atas gangguan pasokan yang berkelanjutan,” kata dia dalam pernyataan resmi.
Gedung Putih juga menyatakan optimisme terkait peluang berakhirnya konflik, meski tetap membuka opsi peningkatan tekanan ekonomi terhadap Teheran.
Iran juga dikabarkan tengah mempertimbangkan untuk mengizinkan kapal berlayar bebas melalui sisi Oman di Selat Hormuz jika kesepakatan tercapai untuk mencegah konflik baru. Perang AS-Israel dengan Iran telah mengakibatkan gangguan pasokan minyak dan gas global terbesar yang pernah terjadi karena gangguan lalu lintas Iran melalui selat tersebut, yang menangani sekitar 20% aliran minyak dan gas alam cair dunia.
Selain itu, upaya diplomasi masih terus berlangsung dengan rencana pertemuan lanjutan antara pejabat AS dan Iran dalam waktu dekat, dengan Pakistan berperan sebagai mediator.
“AS telah memberlakukan blokade terhadap pengiriman barang yang meninggalkan pelabuhan Iran, yang menurut militer AS telah sepenuhnya menghentikan perdagangan masuk dan keluar negara itu melalui laut," kata dia.
Selain itu, menurut Ibrahim, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan bahwa Washington tidak akan memperbarui pengecualian yang memungkinkan pembelian beberapa minyak Iran dan Rusia tanpa menghadapi sanksi AS,” terang Ibrahim.
Tekanan dari Dalam Negeri Masih Ada
Ibrahim menilai sejumlah faktor fundamental di dalam negeri juga masih menjadi perhatian pelaku pasar. Posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia pada Februari 2026 tercatat sebesar US$ 437,9 miliar meningkat dari bulan sebelumnya sebesar US$ 434,9 miliar dolar AS. Secara tahunan, ULN tumbuh 2,5% (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Januari yang sebesar 1,7% (yoy).
Kenaikan ULN terutama didorong oleh sektor publik, khususnya bank sentral, seiring masuknya aliran modal asing ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Sementara itu, ULN swasta justru mengalami penurunan.
Di sisi lain, kondisi fiskal juga menjadi sorotan. Defisit anggaran per Maret 2026 tercatat mencapai 0,93% dari PDB atau sekitar Rp240 triliun, meningkat tajam dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 0,4%.
Dengan asumsi harga minyak dunia berada di kisaran US$100 per barel jauh di atas asumsi APBN sebesar US$70 pemerintah berpotensi melakukan revisi anggaran pada Agustus mendatang.