Rupiah Tembus 17.400 per US$, BI Klaim Masih Sejalan Negara Emerging Market Lain
Nilai tukar rupiah kian melemah dan kembali menembus level baru Rp 17.400 per dolar AS pada perdagangan hari ini, Selasa (5/5). Kurs rupiah terpantau melemah 0,22% ke level 17.432 per dolar AS hingga pukul 11.30 WIB.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset BI Erwin Gunawan Hutapea menjelaskan, pergerakan rupiah sejauh ini masih sejalan dengan tren pelemahan mata uang negara berkembang lainnya, terutama sejak konflik di Timur Tengah meningkat.
Ia memaparkan, sejumlah mata uang emerging market juga mengalami depresiasi cukup signifikan. Peso Filipina melemah 6,58%, baht Thailand 5,04%, rupee India 4,32%, peso Chile 4,24%, rupiah Indonesia 3,65%, dan won Korea Selatan 2,29%.
“Pergerakan rupiah masih sejalan dengan mayoritas mata uang emerging market lainnya,” ujarnya dalam pernyataan resmi, Selasa (5/5).
BI menilai, tekanan terhadap rupiah lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal, terutama meningkatnya ketidakpastian global yang mendorong penguatan dolar AS. Meski begitu, BI menegaskan komitmennya untuk terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dengan aktif hadir di pasar.
Erwin menjelaskan, BI akan mengoptimalkan berbagai instrumen intervensi di pasar valuta asing, mulai dari transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, hingga pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
“Bank Indonesia akan terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dalam rangka menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai dengan nilai fundamentalnya,” kata Erwin.
BI juga memastikan langkah-langkah stabilisasi akan dilakukan secara konsisten dan terukur guna menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan global yang masih berlangsung.
Sebelumnya, Peneliti Center of Macroeconomic and Finance Institute for Development of Economics and Finance Abdul Manaf Pulungan menyoroti pelemahan rupiah yang berbanding dengan menguatnya mata uang di kawasan Asia.
Abdul menyebut rupiah pada kuartal I 2026 melemah sekitar 2,8% saat mata uang negara di kawasan justru menguat. Menurut catatannya, Malaysia menguat sekitar 8,7%, Singapura 4,2%, Thailand 3,9%, dan Cina 5% terhadap dolar AS.
Abdul mengatakan, pelemahan nilai tukar bagi sebenarnya memberikan keuntungan, terutama bagi beberapa negara seperti Korea Selatan. Nilai tukar yang melemah membuat daya saing barang yang diekspor sebuah negara menjadi lebih kompetitif.
“Korea bisa memanfaatkan pelemahan mata uangnya untuk mendorong ekspor karena basis industrinya kuat. Indonesia tidak dalam posisi yang sama ,”ujarnya.
Ekspor Indonesia memang berpotensi meningkat, tetapi sebagian besar masih didominasi oleh komoditas. Di sisi lain, bahan baku dan barang modal industri saat ini masih didominasi impor.
Dari sisi anggaran, pelemahan rupiah secara keseluruhan juga berdampak negatif. Berdasarkan proyeksi perubahan indikator asumsi makro dalam sensitivitas APBN 2026, setiap pelemahan nilai tukar sebesar Rp 100 per dolar AS menaikkan pendapatan negara sekitar Rp 5,3 triliun, sekaligus belanja negara Rp 6,1 triliun.
Dengan demikian, bakal ada tambahan defisit sekitar Rp 800 miliar setiap rupiah melemah Rp 100 per dolar AS.