Airlangga Targetkan Ekspor RI ke Eropa Bebas Bea Masuk pada 2027

ANTARA FOTO/Andri Saputra/YU
Petugas mengawasi aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Ahmad Yani Ternate, Maluku Utara, Sabtu (4/4/2026).
5/5/2026, 18.24 WIB

Pemerintah menargetkan ekspor Indonesia ke pasar Eropa dapat menikmati tarif bea masuk nol persen mulai 2027, seiring dengan upaya penyelesaian perjanjian dagang yang tengah berproses. 

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan langkah ini menjadi bagian dari strategi memperluas pasar ekspor UMKM di tengah ketidakpastian global.

“Kalau ini bisa selesai, kita berharap 1 Januari tahun depan pasar Eropa bisa terbuka dengan bea masuk nol persen,” katanya dalam konferensi pers, Selasa (5/5).

Airlangga mengatakan, pemerintah terus mendorong percepatan ratifikasi perjanjian dagang dengan Uni Eropa. Ia mengungkapkan pemerintah telah berkomunikasi langsung dengan Komisioner Perdagangan Uni Eropa untuk memastikan proses tersebut berjalan sesuai target.

Menurutnya, saat ini proses masih berada pada tahap penerjemahan dokumen ke dalam 22 bahasa resmi Uni Eropa. Setelah tahapan tersebut rampung, proses ratifikasi diharapkan dapat segera dilanjutkan oleh masing-masing negara anggota.

Mengincar Pasar Kanada

Selain Eropa, Airlangga mengatakan pemerintah juga memperluas akses ke pasar lain, seperti Kanada. Indonesia telah memiliki perjanjian perdagangan bebas dengan negara tersebut, yang dinilai semakin strategis di tengah dinamika global.

Airlangga menyebutkan, ketidakpastian hubungan dagang Kanada dengan sejumlah negara lain justru membuka peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan ekspor. Sejumlah produk potensial kini tengah diidentifikasi untuk dapat masuk lebih besar ke pasar Kanada.

Di sisi lain, Indonesia juga terus memperkuat kerja sama ekonomi dengan Inggris melalui skema Economic Growth Partnership yang diarahkan menuju perjanjian perdagangan bebas atau Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA).

“Besok ada Kanada-ASEAN Economic Ministerial Meeting termasuk bagaimana merespons negara-negara ASEAN terhadap krisis, baik energi maupun pangan, dan akan dibahas terkait dengan strategic petroleum reserve di ASEAN dan strategic food reserve yang ada di ASEAN,” ujarnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nuzulia Nur Rahmah