Rupiah Masih Keok Meski BI Sudah Naikkan Suku Bunga 50 Bps

Katadata/Fauza Syahputra
Ilustrasi.
Penulis: Agustiyanti
21/5/2026, 09.57 WIB

Nilai tukar rupiah melemah 0,12% ke level 17.674 per dolar AS pada perdagangan pagi ini, Kamis (21/5). Kurs rupiah kembali melemah setelah menguat signifikan kemarin usai BI menaikkan suku bunga acuan 50 bps ke level 5,25%. 

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka menguat 2 poin di level 17.651 per dolar AS. Namun, rupiah bergerak melemah ke 17.674 per dolar AS hingga pukul 09.45 WIV, 

Pengamat pasar uang Lukman Leong menjelaskan, aliran modal asing yang masih keluar dari pasar domestik masih membebani rupiah. Padahal, indeks dolar AS, imbal hasil obligasi AS dan harga minyak mentah dunia turun di tengah harapan damai di Timur Tengah menyusul pernyataan terbaru Presiden Donald Trump.

"Kenaikan suku bunga jumbo BI bisa mengirim dua sinyal berbeda. Pertama, obligasi rupiah menjadi lebih menarik. Kedua, investor juga berharap BI untuk kembali menaikkan suku bunga kedepannya sehingga masih banyak yang menahan diri," ujar Lukman kepada Katadata.co.id. 

Bank Indonesia sebelumnya menaikkan suku bunga acuan 50 bps ke level 5,25 % dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 19-20 Mei 2026. Keputusan ini diambil di tengah kondisi nilai tukar rupiah yang terus melemah hingga menembus level 17.700 per dolar AS.

Suku bunga deposit facility diputuskan tetap sebesar 4,25% dan lending facility tetap sebesar 6%.

"Kenaikan ini sebagai langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah dan langkah preemptive menjaga inflasi pada 2026 dan 2027 sesuai sasaran," ujar Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam konferensi pers, Rabu (20/5).

BI mencatat, nilai tukar rupiah pada 19 mei berada di level 17.700 per dolar AS, melemah 2,2% dibandingkan akhir April 2026. Namun, Bank Sentral meyakini nilai tukar rupiah akan tetap stabi dan cenderung menguat didukung komitmen BI, imbal hasil yang menarik, dan prospek ekonomi Indonesia yang baik.

Perry menjelaskan, terdapat potensi kenaikan inflasi seiring pelemahan rupiah atau imported inflation. Selain itu, harga energi yang tidak disubsidi juga berpotensi naik seiring kenaikan harga minyak dunia. 

Meski demikian, BI memastikan akan menjaga  inflasi pada tahun ini dan tahun depan level 2,5%. 

Keputusan BI menaikan suku bunga juga seiring dengan arah kebijakan bank sentral lainnya. Perry memperkirakan, inflasi global pada tahun ini meningkat menjadi 4,3%. Sedangkan pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan lebih rendah menjadi 3%. 

“Respons kebijakan moneter global menjadi lebih ketat, bahkan sejumlah bank sentral mulai menaikkan suku bunga kebijakannya,” kata dia.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.