Nilai tukar rupiah terus melemah hingga sempat menembus level 17.900 per dolar AS ada perdagangan hari ini, Senin (18/5). Beberapa bank bahkan telah mematok kurs jual dolar AS di atas Rp 18.000.
Salah satunya adalah Bank DBS Indonesia yang mematok kurs jual dolar AS hari ini di level Rp 18.048 per dolar AS, sedangkan kurs beli dipatok di level Rp 17.683. Kurs tersebut berlaku untuk layanan remitansi.
Dua bank asing lainnya, Bank UOB Indonesia dan HSBC Indonesia juga mematok kurs jual dolar AS di atas 18.000 per dolar AS. Sedangkan beberapa bank besar lokal seperti BCA, CIMB Niaga, dan bank-bank BUMN masih mematok kurs jual dolar AS di kisaran 17.800-17.900 per dolar AS.
Berikut kurs dolar AS yang berlaku hari ini di sejumlah bank besar:
| Bank | Kurs Jual | Kurs Beli |
| HSBC Indonesia | Rp18.060 | Rp17.610 |
| DBS Indonesia | Rp18.048 | Rp17.683 |
| OCBC Indonesia | Rp17.998 | Rp17.668 |
| CIMB Niaga | Rp17.897 | Rp17.882 |
| BCA | Rp17.725 | Rp17.525 |
| Bank Mandiri | Rp17.925 | Rp17.625 |
| BNI | Rp17.925 | Rp17.825 |
| BRI | Rp17.890 | Rp17.698 |
Sumber: website masing-masing bank (kurs transfer)
Berdasarkan data Bloomberg, kurs rupiah hari ini dibuka menguat 25 poin di level 17.820 per dolar AS. Rupiah terus melemah hingga kembali menembus level 17.900 per dolar AS dan berakhir di level 17.880 per dolar AS.
Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso menjelaskan, tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi oleh berlanjutnya ketidakpastian global akibat perkembangan konflik di Timur Tengah. Selain itu, menurut dia,terdapat peningkatan kebutuhan valas secara musiman, antara lain untuk pembayaran ULN dan repatriasi dividen, di tengah arus masuk dolar AS yang terbatas.
"Sebagaimana disampaikan Bapak Gubernur Bank Indonesia pada kesempatan sebelumnya, Bank Indonesia terus berkomitmen hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, around the world, around the clock," ujar Denny dalam keterangan resmi, Jumat (29/5);.
Komitmen tersebut, menurut dia, diwujudkan dengan mengoptimalkan intervensi pasar valas melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian SBN di pasar sekunder secara konsisten dan terukur.
Selain itu, menurut dia, Bank Indonesia terus memperkuat efektivitas bauran kebijakan moneter melalui penguatan struktur suku bunga instrumen moneter yang pro-market guna menjaga daya tarik aset keuangan domestik dan mendukung masuknya aliran modal asing.
Denny menjelaskan, Bank Indonesia telah menetapkan ambang batas tunai beli valas terhadap rupiah tanpa underlying menjadi US$ 25.000 per pelaku per bulan yang akan berlaku mulai Juni 2026.
Bank Indonesia, menurut dia, juga terus memperkuat koordinasi dengan otoritas terkait untuk mendukung stabilitas pasar keuangan dan nilai tukar, antara lain melalui penguatan pengawasan terhadap bank dan korporasi dengan aktivitas pembelian dolar AS yang tinggi.
"BI akan terus mencermati perkembangan pasar keuangan global dan domestik serta senantiasa hadir di pasar dengan mengambil langkah-langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah," kata dia.