Pemerintah Tambah Utang Rp 386 T dalam Lima Bulan, 46% dari Target Tahun Ini
Kementerian Keuangan mencatat, pembiayan utang secara neto hingga Mei 2026 mencapai Rp 386 triliun. Jumlah ini mencapai 46,4% dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun 2026 sebesar Rp 832,2 triliun.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan, pembiayaan anggaran hingga Mei 2026 mencapai Rp 379,4 triliun atau 55,1% dari target APBN 2026. Realisasi pembiayaan anggaran ini terdiri dari pembiayaan utang sebesar Rp 386 triliun dan pembiayaan nonutang yang justru defisit Rp6,5 triliun atau mencapai 4,4% dari target APBN.
"Pembiayaan angggaran berlangsung normal karena keseimbangan primer surplus Rp 58,6 triliun," ujar Purbaya dalam Konferensi Pers APBN KiTA yang digelar di kantor Kemenkeu, Jakarta Pusat, pada Jumat (5/6).
Defisit APBN hingga Mei 2026 tercatat sebesar Rp 180,4 triliun atau 0 7% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini meningkat jika dibandingkan April 2026 sebesar Rp 164,4 triliun atau 0,64% dari PDB.
“Bisa kami kendalikan, utamanya kenapa? Karena pajak dan bea cukai ada perbaikan yang signifikan,” kata dia.
Purbaya menyebut angka defisit Mei 2026 masih ini jauh di bawah target defisit sepanjang 2026 yakni Rp 689,1 triliun atau 2,68% terhadap PDB.
Ia mencatat, realisasi pendapatan negara tercatat 37,6% dari total target APBN sebesar Rp 3.153 triliun. Pendapatan negara terhimpun sebesar Rp 1.185 triliun (37,6%) target APBN senilai Rp 3.153,6 triliun, naik 19,1% secara tahunan.
Penerimaan perpajakan tercatat Rp 958,2 triliun, ditopang oleh serapan pajak yakni Rp 834,4 triliun atau tumbuh 22,1% secara tahunan. Sedangkan penerimaan kepabeanan dan cukai, naik 0,7% secara tahunan menjadi Rp 123,8 triliun.
Komponen penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sebesar Rp 226,4 triliun, tumbuh 19,9% secara tahunan.
Di sisi lain, belanja negara, hingga Mei 2026 tercatat Rp 1.365,4 triliun atau setara 35,5% dari target APBN Rp 3.842,7 triliun, atau tumbuh 34,4% (yoy).